I. PENDAHULUAN

Suasana Idul Fitri masih terasa hangat di hati umat Islam. Suasana yang pasti telah menyisakan aneka kenangan. Suasana indah ini tentunya tidak bisa dirasakan oleh semua orang. Hanya orang-orang yang benar-benar sukses melewati madrasah Ramadhan lah yang akan merasakan begitu indahnya idul Fitri. Keindahan yang tidak terkirakan, yang tidak mungkin bisa ditukar dengan keindahan apapun di dunia ini. Karena keindahan ini adalah keindahan yang terpancar dari surga Allah Azza wa Jalla. Rasulullah SAW bersabda, Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, yaitu saat berbuka (buka puasa dan idul fitri) dan kebahagiaan saat bertemu dengan Allah kelak di akhirat. (HR Bukhori & Muslim).

Tidak sampai di sini saja. Kebahagiaan idul fitri yang kita rasakan hendaknya bisa menjadi modal ruhiyyah yang dahsyat untuk meneruskan peran kita sebagai hamba (abdullah) dan sebagai pemimpin (khalifatullah). Inti dari idul fitri bukanlah hura-hura, bukan pula salam-salaman dan pakaian yang serba baru. Tidak pula mesti makan ketupat sayur lengkap dengan opor ayam ditambah aneka makanan dan minuman berbagai jenis yang dekat pada kemubadziran. Namun, inti idul fitri adalah kembali pada kemurnian aqidah, ibadah dan muamalah. Atau ada yang mengatakan, kembali pada fitrah penciptaan yaitu al-Islam. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS.Ar-Ruum[30]:30).

II. Kembali pada Fitrah; Membesarkan “Takbir” dan Meruntuhkan “Takabbur”

Senja malam Idul Fitri 1 Syawal diawali dengan kumandang takbir di seluruh pelosok belahan dunia. Takbir yang begitu menggema dikumandangakan oleh miliaran umat Islam. Takbir adalah pegakuan sadar seorang hamba akan kebesaran dzat yang Maha Besar. Takbir hanya pantas ditujukan kepada Allah penggenggam alam semesta beserta seluruh makhluk ciptaanNya. Membesarkan keagungan Allah dan mengakui kekerdilan diri, inilah inti dari takbir. Inilah fitrah manusia. Allahu Akbar…. Allahu Akbar…. Allahu Akbar… Laa ilaha illallah…. Allahu Akbar… wa lillahil hamdu.

Memperbanyak takbir, Allahu Akbar adalah disyariatkan pada Idul Fitri. Syariat ini bukan hanya sekedar formalitas yang tanpa makna. Bukan hanya sekedar ucapan lisan yang hambar tanpa bekas. Dengan membesarkan/ memperbanyak takbir, seorang hamba dituntut untuk memasukkan kebesan Allah dalam hatinya, sehingga ia mampu mengeluarkan segala bentuk kebesaran selain Allah dari dalam hatinya, berupa takabbur, bangga diri, perasaan sok suci, sok pintar, sok jagoan, sok kaya, sok sempurna dan lainnya. Juga segala penyakit yang membesar di hati seperti iri, dengki, hasad, fitnah, adu domba, dan penyakit-penyakit sejenis.

Selanjutnya, takbir yang kita ucapkan hendaknya bisa kita terapkan dalam realita di masyarakat. Kita tetap membesarkan Allah dan mengecilkan yang lain di manapun kita berada, baik di kantor, di pabrik, di mall, di pasar, di sawah, di jalan, di sekolah, di rumah, juga di istana. Jangan sampai takbir, tidak kita libatkan dalam aktivitas keseharian. Akibatnya timbul pornografi, manipulasi dan korupsi. Timbul pertentangan, permusuhan dan pertikaian. Timbul pencurian, penjarahan dan pemerkosaan. Timbul caci maki, adu domba dan saling curiga.

Takbir, hendaknya bisa menjadi senjata yang ampuh untuk meruntuhkan ”takabbur” dalam diri kita. Sedikitpun tidak ada yang bisa kita banggakan dari diri yang hina ini. Kita hanya hamba Allah, yang harus senantiasa mengabdi kepadaNya. Sekali kita merasa ”lebih” saat itu pula hati kita tertutup dari kebenaran. Dan setan akan terus mendukung perasaan kita tersebut. Sehingga pada akhirnya kita menjadi seorang yang takabbur. Na’udzubillah. Sifat takabbur ini sangat berbahaya dan akan menegantarkan pelakunya menuju kemurkaan Allah. Seorang yang di hatinya sudah bersemanyam takabbur/ kesombongan (al-kibr) maka pada dasarnya ia telah nyata-nyata menentang Allah. Saat itu di dalam hatinya tidak mungkin ada tauhid yang benar. Rasulullah SAW mengingatkan, ”Tidak akan masuk surga barang siapa yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan (al-kibr). Seorang sahabat bertanya, Apakah seorang yang mengenakan pakain yang indah juga termasuk takabbur? Rasulullah menjawab, Tidak, Allah itu indah dan menyukai keindahan. kesombongan adalah menolak kebenaran dan menghinakan manusia” (HR. Muslim).

Menolak kebenaran dan menghinakan manusia, itulah takabbur yang sebenarnya. Saat kita menolak kebenaran bahwa Allah adalah satu-satunya dzat Yang Maha Besar maka saat itu kita telah jatuh dalam takabbur. Dan saat itu pula berarti kita justru menghinakan diri kita sendiri karena saat itu pasti kita menganggap diri, harta, istri/suami, tahta dan segalam macam perhiasan dunia lainnya lebih besar dan lebih berarti dari pada Allah. Saat itu kita lebih mencintai dunia dari pada Allah, padahal dunia adalah sementara. Na’udzubillah. Maka mulai saat ini, besarkan ”takbir”, runtuhkan ”takabbur” niscaya kita akan selamat.

III. Keseimbangan Fitrah; antara “Kebutuhan” dan “Kesenangan”

Secara fitrah kita telah dilengkapi oleh Allah dengan potensi sumber daya yang sangat besar berbeda dengan makhluk lain. Setidaknya ada 5 potensi yang kita miliki, yaitu daya nabatiyah (RQ-Reflective Quotient), daya hayawaniyah (LQ-Libido Quotient), daya basyariyah (IQ-Intelligence Quotient), daya nafsiyah (EQ-Emotional Quotient) dan daya ruhaniyah (SQ-Spiritual Quotient). Masing-masing dari kita tidak sama tingkat potensinya. RQ dan LQ adalah potensi yang bisa dikembangkan dengan memenuhi kebutuhan fisik berupa kebutuhan perut dan sedikit di bawah perut (kemaluan) sedangkan IQ, EQ dan SQ merupakan potensi yang bisa dikembangkan dengan memenuhi kebutuhan hati dan otak.

Selama satu bulan penuh di madrasah Ramadhan kita dilatih untuk menyeimbangkan diri. Jika selama 11 bulan bulan kita sibuk memenuhi kebutuhan fisik maka selama 1 bulan kita dilatih lebih menitik beratkan pada pemenuhan kebutuhan non-fisik, mensensitifkan hati dan otak. Masalah kebutuhan fisik sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan, sedangkan kebutuhan non-fisik kaitannya dengan perkembangan. Tidak sama antara pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan manusia tidak secara langsung diikuti dengan perkembangan. Biasanya sangat mudah ketika kita harus memacu pertumbuhan tetapi sangat sulit dalam memacu perkembangan. Pertumbuhan akan berhenti pada batas usia tertentu tetapi perkembangan manusia biasanya justru akan semakin pesat sejalan dengan kematangan usia. Tugas kita disini, sebagai orang tua adalah berusaha menyeimbangkan antara pertumbuhan dengan perkembangan pada diri anak-anak kita. Setelah itu berusaha terus memacu perkembangan saat pertumbuhan fisik terhenti. Jika hanya pertumbuhan yang kita utamakan maka apa bedanya dengan binatang? Tentunya pertumbuhan anak kita kalah dengan pertumbuhan binatang semisal kambing, ayam, sapi dan sejenisnya.

Di sela-sela program kita memacu perkembangan kualitas diri ada hal-hal yang sangat mengganggu terealisasinya keseimbangan dalam diri kita. Rata-rata kita masih belum bisa membedakan antara kebutuhan dan kesenangan. Padahal jelas sekali sangat beda antara kebutuhan dan kesenangan. Tidak semua yang dibutuhkan itu sekaligus disenangai dan sebaliknya tidak semua yang dibutuhkan itu disenangi. Ternyata banyak kebutuhan yang tidak kita senangi, dan juga banyak kesenangan yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Setiap kebutuhan pasti menguntungkan tetapi kebanyakan kesenangan itu merugikan.

Orang-orang yang sukses, selamat dan bahagia adalah orang-orang yang sejak dini berlatih menyeimbangkan antara kebutuhan dan kesenangan. Yang namanya kebutuhan harus dipaksakan dan kesenangan harus dibatasi. Oleh karena itu kita harus tega memaksa diri dalam melakukan hal-hal yang memang kita butuhkan dan harus membatasi segala bentuk kesenangan yang akan menghancurkan.Sholat, puasa, zakat, shodaqoh dan menuntut ilmu merupakan kebutuhan, tetapi tidak semua orang sekaligus menyenanginya bahkan anehnya ada sebagian orang yang tidak membutuhkannya. Menikah bagi yang belum adalah suatu kebutuhan bukan hanya kesenangan, tetapi banyak pemuda yang justru tidak mau menikah karena mereka maunya hanya senang-senang saja. Menonton televisi bukanlah suatu kebutuhan tetapi lebih banyak hanya untuk kesenangan belaka. Sedikit sekali orang yang memanfaatkan televisi untuk menambah perkembangan hati dan otaknya. Anehnya, demi mendapatkan kesenangan tersebut banyak orang terbius oleh televisi. Saat di depan televisi mereka duduk manis, khusyu’, tawadhu’ dan berjamaah. Mereka taat sekali pada para presenter, ”Jangan ke mana-mana, kami akan segera kembali dengan acara yang lebih seru…! sami’naa wa atho’naa……..

Dengan momen Idul Fitri kali ini, marilah kita jadikan titik awal bagi kita agar lebih mampu memenej antara kebutuhan dan kesenangan. Sehingga pada akhirnya tidak ada aktivitas kita yang sia-sia hanya terisi dengan hal-hal yang tanpa manfaat.

IV.Tuntutan Fitrah; peningkatan kualitas diri menyongsong masa depan cemerlang

Salah satu inti dari Idul Fitri adalah syawwal yang artinya peningkatan. Setelah kita melakukan ibadah di bulan Ramadhan, maka di bulan syawal ini kita dituntut mampu menjadikan syawwal sebagai start awal untuk melakukan peningkatan kualitas diri. Kita sadar bahwa hidup ini bukan sekedar kehidupan biologis yaitu proses lahir, tumbuh, reproduksi, mati dan selesai. Bagi kita masih ada kehidupan yang lebih bernilai dan abadi yaitu kehidupan akhirat.

Jika pandangan hidup kita sudah benar, maka kita harus menggunakan segala potensi untuk meraih kesuksesan masa depan. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr[59]:18)

Kita pahami bahwa masa depan ada dua macam, yaitu masa depan sebelum mati (dunia) dan masa depan sesudah mati (akhirat). Hal ini perlu kita tegaskan kembali supaya kita tidak salah dalam memandang masa depan kita. Karena karena kelalaian dan kebodohannya, ternyata banyak orang yang ketika diajak bicara tentang masa depan yang tergambar dibenaknya hanya masa depan sebelum mati, sedangkan masa depan sesudah mati hampir-hampir tidak terpikirkan sama sekali.

Masa depan sebelum mati nilainya tidak sama dengan masa depan sesudah mati. Masa depan sesudah mati itu lebih baik, lebih abadi dan lebih pasti dari pada masa depan sebelum mati. Masa depan sebelum mati bersifat mungkin sedangkan masa depan sesudah mati bersifat pasti. Artinya, apapun yang belum terjadi di dunia ini dari sekarang sampai mati, adalah sekedar kemungkinan. Sedangkan kematian adalah pasti, hidup lagi sesudah mati adalah pasti, tentang adanya surga dan neraka tidak bisa diingkari, di surga bahagia di neraka sengsara akan terbukti. Siapa di dunia punya harta dan tahta belum tentu hidupnya bahagia, tetapi siapa yang tidak memiliki pahala bahkan justru banyak berdosa jangan harap dan mimpi akan bahagia di surga.

Lalu bagaimana kita menyikapi dua masa depan tersebut? Allah menjawabnya, Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.(QS. Al-Qoshosh[28]:77). Kerjakan yang pasti jangan abaikan yang mungkin, begitulah pesan Allah kepada kita dalam menyikapi masa depan dunia dan akhirat. Carilah akhirat jangan melupakan dunia. Seriuslah jika itu berkaitan dengan masa depan akhirat, tetapi jangan dilalaikan atau diremehkan meskipun itu hanya persoalan dunia yang belum pasti.

Untuk meraih masa depan, baik masa depan dunia maupun akhirat bukanlah sebuah persoalan yang mudah, bukan perjalanan yang mulus dan lurus. Perjalanan meraih masa depan adalah perjalanan yang mendaki dan sulit, yang harus dilewati setingkat demi setingkat dalam kehidupan. Hidup ini adalah sebuah perjalanan sekaligus perjuangan yang dihadapkan selalu ada peluang dan tantangan, kemudahan dan kesulitan, dukungan dan gangguan, peringatan dan godaan.Kesulitan, tantangan, gangguan dan godaan bukan untuk kita hindari, justru semua itu ada sebagai jalan kesuksesan kita. Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan (QS.Al-Insyrah[94]5-6). Begitulah Allah menjanjikannya. Hidup ini adalh proses membenturkan idealisme dengan realita, menguji harapan dalam keberhasilan atau paling tidak membuktikan bahwa angan-angan itu tidak sama dengan kenyataan. Ada ungkapan menarik yang bisa kita jadikan penyemangat, ”Jangan kau rintangi masa depanmu dengan membiasakan hidup mudah”

V. PENUTUP

Idul Fitri sebagai momen yang sangat penting bagi umat Islam, seharusnya kita jadikan sebagai titik pandang dalam rangka perbaikan diri menuju hamba Allah seutuhnya. Dalam artian, menjadikan kita bisa sukses kembali pada fitrah penciptaan, yaitu al-Islam. Juga sebagai sarana yang akan terus memacu kesadaran ruhani kita akan kebesaran Allah sekaligus memahamkan kita akan kekerdilan diri. Dan yang tak kalah pentingnya, bisa menjadikan kita sebagai manusia yang seimbang dalam segala hal serta menjadi motivator peningkatan kualitas diri menuju masa depan yang cemerlang. Semoga Allah senantiasa bersama kita dimanapun dan kapanpun kita berada. Allahu ta’ala a’lam

*Disampaikan dalam Acara Halal bi Halal, Dept. Cutting UHF, PT. IRC INOAC Pasar Kemis-Tangerang, Ahad, 26 Syawal 1429H

Referensi:
Tafsir Ibnu Katsir
Kecerdasan Menatap Masa Depan, Ust Didik Purwodarsono
Hadits Web, versi 3.0
Al-Quran Digital, versi 3.1

Posted by: MM | 23 October 2008

Konsep Jodoh

Suatu ketika saya menerima sms yang cukup menyentuh sekaligus memprihatinkan dari seorang sahabat lama. Sebenarnya bukan kali ini saja sih. Ini hanyalah satu dari sms-sms semisal yang saya terima. Intinya saat itu sahabat saya tersebut sedang patah hati, begitu dia bilang. Sepertinya ada setumpuk kesedihan tersimpan dalam hatinya. Sebenarnya kasihan juga sih, tapi mengapa hal itu mesti terjadi? Di akhir smsnya, dia menanyakan kepada saya tentang konsep jodoh, juga konsep taqdir. Yakinkan padaku bahwa Allah telah menyiapkan jodoh terbaik buatku, begitulah pinta sahabat saya tersebut di akhir smsnya.

“Jodoh”, yah inilah misteri yang akan senantiasa menghantui setiap orang sampai kapan pun. Seakan tidak ada habisnya membicarakan masalah ini. fatwa dan penjelasan para ‘alim pun belum bisa memberikan kepuasan setiap insan. Apakah jodoh adalah murni taqdir Allah yang tidak ada hubungannya dengan ikhtiar manusia? Apakah murni ikhtiar manusia dan tidak ada hubungannya dengan Allah? Atau apakah kedua-duanya berperan, Allah dan ikhtiar manusia?

Bahwa jodoh berkaitan dengan taqdir adalah benar. Bahwa kita pada dasarnya sudah ditaqdirkan oleh Allah memiliki jodoh masing-masing adalah hal yang harus kita yakini. Tapi yang menjadi persoalan adalah siapa yang dikehendaki oleh Allah menjadi jodoh kita?? It’s mysterious problem. Jika kita membicarakan taqdir / kehendak Allah maka pada dasarnya ada dua yaitu, apa yang dikehendaki Allah kepada kita dan apa yang dikendaki Allah dari kita. ”Kepada tidak sama dengan dari”. Apa yang dikehendaki Allah kepada kita adalah sebuah rahasia Allah, biasa saya menyebutnya taqdir mutlak. Kita tidak diberi tahu sebelum hal itu terjadi. Siapa jodoh saya? Kapan saya mati? Kenapa saya berkulit hitam? Kenapa saya pendek? Kenapa saya lahir di Indonesia? Semua itu adalah mutlak rahasia Allah. Itu adalah urusan Allah secara mutlak, hak prerogatif Allah sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa. Masalah ini bukan domain manusia. Memikirkan dan mempertanyakannya tidak ada manfaatnya sama sekali bahkan akan melahirkan kesulitan yang mengantarkan kesesatan dan kebinasaan.

Tugas kita sebagai makhluknya adalah memikirkan dan mengikhtiarkan kehendak Allah yang kedua, yaitu apa yang dikehendaki Allah dari kita, biasa saya menyebutnya taqdir ikhtiari yaitu ketetapan Allah yang ada kaitannya dengan usaha manusia. Inilah tugas kita sebagai makhluk. Allah menghendaki kita menuntut ilmu, silaturahim, sholat, dzikir, berdoa, berusaha dan lain-lain. Termasuk dalam hal jodoh, Allah menhendaki kita agar berusaha mencari dan menemukan jodoh terbaik kita masing-masing. Sebelum mendapatkannya, kita tidak tahu pasti siapa jodoh kita. Rahasiannya masih tersimpan rapih dalam database Allah di lauhul mahfuzh. Untuk mengetahui siapa jodoh kita, maka kita dituntut melakukan usaha, ikhtiar dan upaya.

Jodoh adalah taqdir yang sekaligus berkaitan dengan peran Allah dan ikhtiar manusia. Jodoh bukan taqdir mutlak, tapi taqdir ikhtiari. Sehingga kaidah dalam menemukan jodoh adalah usaha/ ikhtiar secara syar’i dan tawakal. Di sini saya katakan dengan penghubung dan bukan lalukemudiansetelah itu. Artinya tawakal/ pasrah/ doa mengiringi usaha kita dalam menemukan jodoh tersebut. Dan ternyata inilah yang akan dinilah oleh Allah, proses usaha/ ikhtiar dan tawakal kita kepada Allah. Dengan demikian hasil dari proses tersebut akan kita pandang sebagai “yang terbaik”. Hati kita pun akan ikhlas menerima. Sehingga tidak ada istilah sakit hati, patah hati maupun duka hati.

Siapa jodoh saya? Untuk mengetahui, tepatnya menebak siapa jodoh kita dalam bahasa ikhtiarnya, maka sangat ditentukan bagaimana kita mengetahui ”siapa diri kita”. Sangat sulit menebak siapa jodohnya bagi orang yang belum mengenal dirinya. Oleh karena itu orang yang sudah faham siapa dirinya akan mudah untuk menemukan jodohnya. Jadi, ikhtiar yang harus kita lakukan pertama kali agar mendapatkan jodoh terbaik adalah memperbaiki diri. Karena Allah telah berjanji laki-laki yang baik adlah untuk perempuan yang baik, dan perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik pula.

Siapapun jodoh kita, tidak begitu masalah karena memang kita tidak pernah tahu siapa sosok yang telah dipilihkan oleh Allah untuk mendampingi kita. Yang jadi masalah adalah penerimaan kita kepada sosok yang menjadi jodoh kita tersebut. Apakah hati kita menerimanya dengan ikhlas kemudian mensyukurinya dengan prasangka baik kepada Allah atau justeru hati kita menolak dan mengingkarinya dengan prasangka buruk kepada Nya??. Mungkin kelak jodoh kita bukanlah sosok yang selama ini menjadi dambaan dan pujaan hati. Mungkin jodoh kita bukanlah yang kita idam-idamkan. Mungkin jodoh kita bukanlah sosok yang mempunyai kesempurnaan fisik dan ekonomi. Mungkin … mungkin … dan beragam mungkin lainnya yang tidak sesuai dengan hati kita. Tapi pernahkan kita membayangkan bahwa ternya dia adalah sosok manusia terbaik yang Allah anugerahkan kepada kita? Boleh jadi kita membenci sesuatu padahal itu amat baik bagi kita. Juga boleh jadi kita mencintai sesuatu padahal itu amat buruk bagi kita. Allahu A’lam, Hanya Allah yang Maha Tahu. 

I. PENDAHULUAN
Mudik lebaran. Itulah aktifitas tahunan yang sulit untuk ditinggalkan apalagi dihilangkan. Sudah menjadi kebiasaan yang seakan sudah mendarah daging di setiap insan manusia Indonesia di perantauan. Jika satu kali saja tidak sempat mudik ke kampung halaman, seakan ada yang aneh, seakan ada yang hilang, sehingga membuat hati gelisah, cemas dan bimbang.

Berbagai upaya diusahakan demi terealisasinya satu kata, “mudik”. Tak peduli betapapun kesulitan dan kesukaran yang dihadapi untuk itu. Antrian panjang hanya untuk mendapatkan tiket mudik, lama-lama menunggu keberangkatan pesawat, berdesak-desakan di kereta, berjubel di bus, kemacetan panjang di perjalanan, bahkan ada yang capek-capek bersepeda modor dengan resiko kehujanan dan kepanasan. Tidak sedikit pula yang harus menanggung resiko kecelakaan, luka-luka dan kematian.

Mudik, adalah hal yang sangat-dinanti-nanti sekaligus merupakan obat kebahagiaan. Jauh-jauh hari sebelum waktunya tiba, mereka sudah mempersiapkan segala sesuatu dengan matang. Segala rencana disusun sedemikian rapih. Dana disiapkan sebanyak mungkin. Kendaraan terbaik disediakan khusus pengantar mudik. Segala perbekalan dan oleh-oleh di kumpulkan. Semua itu disipakan hanya untuk satu kata, bekal mudik ke kampung halaman.

Mudik, adalah aktifitas yang hanya dilakukan oleh mereka yang merantau, jauh dari kampung halaman. Bagi mereka, mudik merupakan satu hal yang istimewa dan merupakan kenikmatan yang luar biasa. Mengapa? Karena ada sesuatu yang menjadi tujuan. Ada secercah harapan terpancar jauh dari kampung halaman. Ada bayangan wajah sanyu Ibu-Bapak yang sudak mulai keriput tapi tetap menebarkan senyum yang penuh makna. Ada gelak tawa dan canda yang membingkai keceriaan pertemuan dengan saudara-saudara yang sekian lama tidak bertemu.

Mudik adalah fitrah. Setiap manusia yang sekian lama meninggalkan kampung halaman, secara fitrah pasti ingin pulang. Jika tidak pasti akan timbul keresahan dan kegundahan. Betapapun indahnya perjalanan wisata yang kita lakukan, ujung-ujungnya pun kita ingin pulang. Ada temuan yang menarik terkait masalah ini, ternyata bayi lebih merasa nyaman jika digendong oleh ibunya pada sisi kiri. Mengapa? Karena detak jantung ibu lebih bisa tertangkap oleh si bayi. Detak jantung yang sama yang dulu bayi itu dengarkan sewaktu berada dalam kandungan ibu. Bayi tersebut seakan-akan merasa pulang ke tempat awalnya. Singkatnya, setiap manusia masti senantiasa rindu untuk pulang ke asal muasalnya. Kerena itulah kita sering kangen pada orang tua, rindu pada kampung halaman dsb. Ibnu Qoyim bersyair:
Pindahkanlah hatimu sesuai selera
Tapi tiadalah cinta melainkan pada kekasih pertama
Berapa banyak tempat di bumi yang disinggahi pemuda
Tapi kerinduannya senantiasa pada persinggahan pertama

Syair tersebut mengisyaratkan sebuah fitrah cinta dan kerinduan. Cinta dan kerinduan seseorang senantiasa akan membekas pada ”sesuatu” yang pertama. Rasulullah saw., meskipun beristri banyak dan sangat mencintai istri-istrinya khususnya A’isyah ra., tetapi posisi Khodijah di hati Beliau tidak bisa digantikan oleh mereka, karena Khodijah adalah cinta pertama Beliau. Inilah fitrah yang tidak bisa diabaikan. Termasuk di dalamnya, fitrah manusia untuk pulang ke kampung halaman. Meskipun tidak ada keharusan, tetapi sulit sekali membendung kerinduan itu.      

II. KEMBALI KEPADA FITRAH PENCIPTAAN           
Mudik merupakan kegiatan pulang yang dilakukan oleh manusia ke kampung halamannya di dunia dimana di situ mereka pertama kali dilahirkan. Perlu kita ketahui bahwa, kampung halaman kita didunia itu sifatnya relatif. Tempat tinggal kita yang sebenarnya akan kita jumpai setelah kematian. Tempat itu adalah kampung akhirat…. Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS.Al-An’am[6]:32).           

Asal muasal kita yang pertama kali ternyata bukanlah di dunia, tetapi di alam ruh di sisi Allah SWT. Dari Allah lah kita berasal dan kepadaNya lah kita akan kembali (QS Al-Baqoroh[2]:156). Dan di sisi Allah tersebut kita telah melakukan persaksian akan keesaan Allah sebagai Rabb kita. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-A’raf[7]:172, Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

Peristiwa pengambilan persaksian yang dikisahkan dalam ayat di atas merupakan peristiwa maha dahsyat yang pernah dialami oleh manusia. Bagaimana tidak?! Ketika itu jiwa manusia tengah diambil persaksian secara langsung oleh Dzat yang maha kuasa, maha perkasa, maha besar dan maha indah, dimana keindahan semesta raya tidak berarti apa-apa dibanding keindahan-Nya.        

Peristiwa pengambilan persaksian maha dahsyat tersebut pada hakekatnya menghujam kuat dalam diri manusia, tidak hanya mempengaruhi alam bawah sadar, bahkan masuk ke dalam fithrah, sehingga termasuk fithrah manusia untuk senantiasa ingin pulang, rindu dan kembali kepada-Nya. Dari-Nya kita berasal dan kepada-Nya kita kembali. Innā liLlāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.        

Namun, kita sering kali terkecoh. Fithrah dan kerinduan sejati kita untuk kembali kepada-Nya tersebut sering kali tertutup oleh keindahan dunia yang semu dan imitasi. Dunia yang seharusnya hanya kita jadikan sebagai sarana untuk membuktikan sejauh mana kerinduan dan kecintaan kita kepada-Nya justru berbalik menjadi tujuan yang melalaikan kita dari-Nya. WaLlāhu musta’ān.

Mari sejenak kita renungkan dalam hati kita masing-masing. Masihkah kita ingat persaksian itu? Apakah kita masih komitmen terhadap persaksian itu? Apakah kita masih ingat akan kampung halaman kita yang sesungguhnya? Sudahkah kita mempersipkan segala sesuatu dan perbekalan menuju alam akhirat seperti halnya kita sibuk mempersipakan mudik lebaran?           

Jika kita rela berdesak-desakan dalam kereta, bus dan berjubelnya jalan raya, maka seharusnya kita juga rela berdesak-desakan dan berebut dalam shaf pertama sholat. Seharusnya kita rela berlomba-lomba menebarkan kebaikan dalam rangka mendapatkan tiket surga di kampung akhirat. Jika kita menyiapkan dana begitu banyak untuk mudik, sudah sepantasnya kita persembahkan jiwa dan harta kita di jalan Allah SWT. Jika kita mudik ingin melihat wajah orang tua, saudara dan indahnya kampung halaman, maka sudah seharusnya kita juga punya harapan dan keinginan untuk bisa menikmati keindahan surga dan kenikmatan melihat wajah Allah Azza wa jalla, karena inilah kenikmatan yang sesungguhnya. Seluruh penduduk surga meskipun telah menikmati segala keindahan surga dengan segala apa yang ada di dalamnya berupa bidadari-bidadari yang jelita, permadani beraneka warna, buah-buahan beraneka jenis dan rasa, tempat tidur yang nyaman dan aneka kenikmatan lainnya, mereka semua masih belum meraskan kenikmatan yang sesungguhnya kecuali setelah mereka melihat wajah Allah SWT.

III. RAMBU-RAMBU PERJALANAN MENUJU KAMPUNG AKHIRAT           
Mudik yang selalu kita lakukan adalah salah satu bagian kecil dari perjalanan pulang kita ke kampung halaman abadi, yaitu kampung akhirat. Jika perjalanan mudik saja kita persiapkan dengan matang, maka sudah selayaknya perjalanan pulang ke kampung akhirat harus lebih kita persiapkan dengan sebaik-baiknya. Di dunia ini, kita semua adalah perantau, kita semua adalah musafir. Tidak selamanya kita akan berdiam di dunia ini. Sebagaimana telah digambarkan oleh Rasulullah SAW, bahwa kita di dunia ini laksana seorang musafir yang berteduh di bawah rindangnya sebuah pohon yang kemudian akan berlalu untuk melanjutkan perjalanan. Maka Rasulullah SAW berpesan, kun fid dunya ka annaka ghoriibun aw ’aabirus sabiil, jadilah dirimu di dunia seperti orang asing atau seperti seorang musafir. (HR. Bukhori).           

Itulah gambaran kehidupan kita di dunia. Dunia yang kita tempati saat ini hanyalah persinggahan sementara. Jangan sampai kita terkecoh akan keindahan dan kenikmatannya sehingga melupakan kita akan kampung akhirat. Agar perjalanan kita di dunia menuju kampung akhirat bisa sukses maka setidaknya ada beberapa rambu-rambu yang harus senantiasa kita patuhi, yaitu:

1. Menetapkan Tujuan
Sebuah perjalanan akan sukses jika pertama kali kita menetapkan suatu tujuan yang jelas. Jika kita berenacana mudik tetapi tujuan kita tidak jelas ke mana kita akan mudik, maka jangan harap kita bisa sampai pada tempat yang kita tuju, karena dari awal memang kita tidak punya tujuan.

Demikian halnya, jika tujuan perjalanan hidup kita tidak jelas jangan harap kita bisa selamat meniti perjalanan ini hingga akhir. Lalu apa tujuan hidup kita yang sebenarnya? Tujuan hidup kita adalah Ridho Allah (mardhotillah). Dan akhir dari perjalanan panjang kita di dunia adalah kampung akhirat. Allah SWT berfirman,  Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya (QS Al-Baqoroh[2]:207) 

2. Mempersiapkan Bekal
Bekal, apapun bentuknya sangat diperlukan dalam sebuah perjalanan. Saat kita mudik ke kampung halaman misalnya, sudah pasti kita akan menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya juga membawa oleh-oleh menarik untuk kerabat kita di kampung halaman. Kita pasti tidak mau gagal dalam perjalanan hanya karena kita kehabisan bekal.

Perjalanan kita menuju kampung akhirat jauh lebih panjang dari mudik yang selama ini kita lakukan. Perjalanan kita ini pun dalam rangka menemui dzat yang maha mulia, ialah Allah SWT maka oleh-oleh yang harus kita bawa dan kita persembahkan kepadaNYA pun harus jauh lebih spesial. Maka logikanya, bekal dan oleh-oleh yang harus kita siapkan juga harus lebih banyak dan lebih berbobot di mata Allah. Apa bekal yang paling baik di mata Allah? Bekal itu bukan harta benda berupa emas, permata maupun dolar amerika, bukan pula tahta, jabatan, pangkat dan kedudukan di mata manusia, bukan pula wanita yang selalu kita puja, bukan pula ketampanan dan kecantikan yang biasa kita banggakan. Bekal terbaik di mata Allah adalah taqwa. Allah berfirman, Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS Al-Baqoroh[2]:197).

Taqwa adalah manifestasi dari amal perbuatan kita dalam kehidupan sehari-hari. Suatu ketika Umar bin Khattab ra., bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang taqwa. ”Wahai Ubay, Tahukan kamu apa itu taqwa?” Kemudian Ubay menjawab dengan sebuah pertanyaan, ”Pernahkan kamu berjalan di suatu jalan yang penuh dengan duri?” Lalu apa yang akan kamu lakukan?” Jawab Umar, ”Maka saya akan berhati-hati, Saya teliti dengan seksama dan saya lihat tempat berpijak kedua telapak kakiku. Saya majukan satu kaki dan mundurkan yang lainnya khawatir terkena duri, ”Itulah taqwa”, jawab Ubay. Di lain kesempatan, Ali bin Abi Tholib juga pernah ditanya tentang takwa, lalu beliau menjawab: ”Takut kepada Allah, beramal dengan wahyu (Al Qur’an dan Sunnah) dan ridho dengan sedikit serta bersiap-siap untuk menhadapi hari kiamat”

Itulah gambaran taqwa yang disampaikan oleh sosok manusia pilihan generasi awal Islam. Suatu gambaran yang penuh dengan makna. Memang itulah hakikat taqwa. Pribadi yang bertaqwa adalah pribadi yang senantiasa berhati-hati dalam setiap amal perbuatan yang mereka kerjakan. Mereka senantiasa hati-hati dalam ucapan sehingga tidak pernah menyakiti Allah, Rasul dan manusia. Hanya ucapan-ucapan yang baik yang keluar dari mulutnya. Sebagaiamana pesan rasulullah SAW, Qul khoiran aw liyasmut, katakan yang baik atau lebih baik diam. Mereka senantiasa hati-hati dalam makanan, sehingga tidak pernah ada makanan subhat yang masuk dalam perutnya apalagi yang haram. Pendeknya, mereka senantiasa hati-hati dalam mengerjakan setiap perintah dan larangan Allah dan RasulNYA, sehingga Allah senantiasa Ridho terhadap setiap amal yang mereka kerjakan.     

Taqwa inilah yang harus senantiasa kita bawa dalam setiap perjalanan hidup kita, termasuk saat perjalanan mudik ke kampung halaman. Jangan sampai saat mudik, taqwa yang merupakan salah satu buah dari puasa Ramadhan kita justru kita tinggal di kontrakan. Dengan taqwa tersebut insya Allah kita akan senantiasa istiqomah menjalani hidup. Tidak mudah futhur di saat-saat dalam kondisi lingkungan yang buruk. Kita akan tetap bisa mewarnai lingkungan dan membawanya ke arah kebaikan (bi’ah ash-sholihah). Akhirnya kita juga bisa terus tetap semangat mengobarkan ruh dakwah di mana pun kita berada. 

3. Berpedoman pada Petunjuk
Petunjuk mutlak diperlukan dalam setiap perjalanan, apapun nama dan jenis perjalanan tersebut. Seorang musafir, jika ingin selamat sampai tujuan pasti membutuhkan petunjuk arah berupa kompas, peta ataupun tanda alam. Jika petunjuk tersebut tidak ada, atau ada petunjuk tetapi tidak mau berpedoman padanya niscaya mereka akan tersesat sehingga tidak bisa sampai pada tempat yang mereka tuju. Termasuk perjalanan mudik yang kita lakukan. Meskipun kita sudah tahu tempat asal kita, tetapi kitapun masih butuh petunjuk arah, khususnya bagi pemudik dengan kendaraan pribadi. Ia masih butuh peta jalan, penunjuk arah dan rambu-rambu lalu lintas.

Demikian halnya dengan perjalanan panjang kita menuju kampung akhirat. Perjalanan tersebut justru lebih pelik dan berliku dari pada perjalanan-perjalanan yang kita lakukan selama di dunia. Oleh karena itu, mutlak kita memerlukan petunjuk yang bisa mengantarkan kepada tujuan akhir kita. Petunjuk itu adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Rasulullah SAW., bersabda “Aku telah meninggalkan kepadamu dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR Muslim)

Al-Qur’an dan As-Sunnah, inilah petunjuk yang pasti benar. Petunjuk yang langsung disampaikan oleh Dzat yang Maha Benar, dzat yang Maha Pencipta. 

4.Memiliki Teman
Teman dalam perjalanan sangat diperlukan agar bisa saling menjaga dan mengingatkan atau mungkin hanya sebagi teman ngobrol. Pastinya teman di sini adalah teman yang benar-benar halal secara syar’i. Tidak boleh seorang perempuan bepergian tanpa disertai muhrimnya. Tujuannya tidak lain, untuk menghindari bahaya yang tidak diinginkan.

Dalam perjalanan panjang ini, kita pun membutuhkan teman yang baik (sholih). Dengan adanya teman yang sholih tersebut kita bisa saling menjaga dan saling nasihat-menasihati dalam kesabaran dan taqwa. Teman di sini bisa dipahami secara luas meliputi banyak hal, misalnya teman sejati dalam hidup kita (suami/istri), teman dalam sebuah keluarga (anak, saudara), teman dalam lingkungan tetangga, teman karib dalam medan dakwah, teman dalam dunia profesi dan sebaginya. Semua teman tersebut akan menentukan kualitas diri kita. Seseorang bisa dilihat dari keadaan teman-temannya.            

IV. PENUTUP        
Mudik idul fitri yang setiap tahun kita lakukan hendaknya jangan hanya dijadikan rutinitas tanpa makna bahkan terkesan dipaksakan. Jika memang benar-benar tidak bisa, tidak perlu kita memaksakan diri atau bahkan menghalalkan segala cara hanya demi untuk pulang mudik. Sehingga boleh jadi karena suatu hal kita tidak sampai ke kampung halaman tetapi justru sampai ke kampung akhirat, padahal bekal akhirat kita belum cukup. naudzubillah. Maka dari itu, selama kita mudik dan saat kita bersama keluarga jangan pernah terlena, tetaplah istiqomah dalam ketaatan kepadaNYA.

Rutinitas mudik tersebut hendaknya bisa memperbarui ingatan kita akan kampung akhirat yang pasti akan kita tuju, sehingga kita bisa semakin mempersipkan diri dalam mengarungi perjalanan hidup ini. Tetapkan tujuan, perbanyak bekal, bawa petunjuk dan cari teman yang sholih, insya Allah kita akan selamat sampai tujuan akhir. Wallahu a’lam bish-showab

* Materi insya Allah akan disampaikan dalam acara Ifthor Jama’i LTQ Ibadurrahman, Ahad 21 Ramadhan 1429H

Posted by: MM | 9 September 2008

Ada dan tiadanya tiada beda

Saudara

Masihkah kita hidup? Sejenah mari kita tengok diri kita. Kita raba fisik kita. Kita kenali tubuh kita. Kita pahami keberadaan kita di bumi ini. Pastinya kita akan mendapai diri kita secara fisik masih hidup. Mata kita masih normal melihat, telinga kita tiada cacat mendengar, mulut kita fasih berucap, kaki kita tiada bosan berjalan, jantung kita setia tetap berdetak dan nafas kita masih ada. Ya, kita saat ini masih hidup. Kita masih mendapati tubuh kita segar bugar.

Saudara

Mengapa refleksi itu sangat penting bagi kita? Karena ada satu hal yang selama ini sering kita lupa, ialah kehidupan jiwa kita yang direpresentasikan dengan hidupnya hati. Sering kita tidak adil memperlakukannya. Sedikit saja ada noda di wajah langsung kita melihat, mengenali, memeriksa dan sesegera mungkin mengusahakan penyembuhan. Sedikit saja kulit kita berdebu, seketia itu kita langsung mandi dan membersihkannya sebersih-bersihnya. Samakah hal itu kita perbuat terhadap hati kita? Berapa sering kita melihat, mengenali dan memeriksa hati kita dari noda-noda berupa dosa dan maksiat? Padahal tiap detik hati kita senantiasa terkontaminasi oleh berbagai noda dosa dan maksiat. Berapa banyak mata kita menatap sesuatu yang haram. Berapa banyak telinga kita mendengar sesuatu yang tidak pantas didengar. Berapa banyak lisan kita mengucap kata-kata kotor dan segala kesia-siaan. Berapa banyak perbuatan-perbuatan tanpa makna yang kita lakukan. Tahukah kita, semua itu senantiasa mengotori kesucian hati kita. Tapi mengapa kita seolah tidak mempedulikannya?

Saudara

Hidupnya hati adalah kehidupan yang sesungguhnya. Tidak dipandang hidup, seseorang yang hatinya mati meskipun secara fisik ia hidup. Sehingga ada dan tiadanya tiada beda. Tidak dipandang ada oleh masyarakat karena memang hatinya tertutup sehingga ia tidak memandang ada orang lain bersamanya. mereka tidak peduli kesedihan dan penderitaan orang lain. tidak peduli terhadap tetangga, saudara, istri dan anaknya. Bahkan mereka tidak peduli terhadap dirinya sendiri. Mereka zholim terhadap dirinya sendiri karena membiarkan hatinya mati tertutup oleh berbagai dosa dan maksiyat. Maka pada dasarnya orang-orang seperti itu adalah orang yang tidak hidup dalam pandangan Allah.

Saudara

 Fisik dan rupa kita bukanlah segala-galanya. Semua itu bukan ukuran kesempurnaan manusia karena Allah tidak memandang manusia karena rupanya tetapi Allah memandang manusia karena akhlaq dan amalnya. Kemuliaan di mata Allah tidak mutlak milik orang-orang yang mempunyai rupa keren, cantik, ganteng, gagah dan perkasa. Kemuliaan bisa dicapai oleh setiap orang baik yang rupawan maupan yang tanpa rupa. Rupa dan fisik adalah salah satu representasi dari materi. Dan materi bukanlah ukuran kemuliaan seorang hamba. Orang yang hanya membanggakan rupa dan fisik semata maka ia adalah seorang materialis. Hidupnya dan segala aktivitasnya hanya diukur dengan materi (wujud fisik), padahal tiada materi yang kekal di dunia. Kecantikan dan ketampanan yang dipuja-puja suatu saat pasti akan sirna. Harta yang melimpah suatu waktu pasti akan tiada. Jabatan yang diagung-agungkan pasti suatu hari akan hilang. Tubuh yang gagah perkasa penuh tenaga suatu saat pasti akan melemah. Semua itu adalah “materi” yang pasti akan pergi.

Saudara

Allah Maha Adil terhadap segala ciptaanNya. Jangan pernah mengeluh jika saat ini Anda papa harta benda. Jangan pernah menyesal jika Anda dikarunia wajah dan fisik yang di bawah standar. Apapun kondisi kita, insyaAllah kita mempunyai peluang yang sama untuk menggapai kemuliaan haqiqi. Allah SWT menegaskan bahwa orang terbaik dimataNYA adalah orang yang paling bertaqwa. Taqwa adalah cerminan dari akhlaq mulia (akhlaq al-kariimah) dan amal sholih (’amal ash-sholih). Akhlaq mulia dan amal sholih adalah implemantasi dari hati yang hidup. Inilah kemuliaan haqiqi dimata Allah. Sungguh beruntung orang yang mendapat gelar muttaqiin karena ia adalah sebaik-baik manusia.

Saudara

Orang yang bertaqwa (muttaqiin) adalah orang yang hatinya senantiasa hidup. Orang yang senantiasa menjaga hatinya dari noda dosa dan maksiyat (muhsin). Orang yang senantiasa mengawal hatinya tetap bersih hanya mengharap Ridho Allah (mukhlish). Orang yang senantiasa mensyukuri setiap nikmat yang diberiakan Allah (syakiir). Orang yang senantiasa bersabar terhadap segala ujian dan cobaan dari Allah (shobiir). Orang yang senantiasa menjaga diri dan kehormatanya (iffah). Mereka itulah pribadi-pribadi unggulan yang dimuliaakan oleh Allah SWT. Mereka senantiasa dicari dan dibutuhkan oleh manusia karena kebaikannya. Adanya menyejukkan jiwa, tiadanya membuat rindu.

Posted by: MM | 2 September 2008

Boleh jadi ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita…

Alhamdulillah, kita bisa mendapati Ramadhan tahun ini. Betapa banyak saudara-saudara kita yang tidak sempat menemui indahnya bulan ini karena telah lebih daluhu meninggalkan dunia ini. Mungkin ada sebagian dari mereka yang menyesal. Mungkin mereka dahulu belum mengoptimalkan ibadah-ibadah di bulan tersebut. Mungkin banyak waktu yang tersia-siakan selama itu. Mungkin saat ini mereka sedang menangis, tangis penuh penyesalan.

Bagaimana dengan kita? Saat ini kita masih punya kesempatan menjumpai Ramadhan. Tetapi kita tidak pernah tahu apakah kesempatan itu akan selalu ada hingga akhir Ramadhan ini?.  Allahu A’lam, hanya Allah yang maha tahu batas usia kita. Boleh jadi, sebelum sempat kita mendapat ampunanNya di bulan suci ini, kesempatan itu keburu diambil olehNya. Oleh karena itu, optimalkan kesempatan yang masih ada untuk bertaqorrub kepadaNya dengan penuh keikhlasan. Semua terserah kita, apakah kita akan memanfaatkan sisa Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya atau justru kita akan menyia-nyiakannya?. Jangan sampai kelak kita juga menangis penuh penyesalan karena menyia-nyiakan Ramadhan kali ini.

Kita tidak pernah tahu, boleh jadi Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang terakhir buat kita. Apa yang akan kita lakukan jika kebolehjadian tersebut benar adanya? Tentunya kita akan menjadikan Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan yang terbaik diantara Ramadhan-ramadhan yang lalu. Kita hendaknya senantiasa khawatir dan was-was jika amalan kita di bulan ini tidak diterima oleh Allah SWT.

Ikhlaskan niat hanya semata-mata karena Allah dan kerjakan dengan benar sesuai tuntunan Rasulillah saw (ittiba’). Ini sangat penting untuk senantiasa kita perhatikan karena niat dan ittiba’ inilah yang menentukan diterima tidaknya ibadah puasa kita. Niat dan ittiba’ ini pulalah yang akan mengawal perjalanan Ramadhan tetap dalam rel yang lurus. Niat yang terpupuk juga akan senantiasa membangkitkan semangat dan gairah untuk terus memacu diri bertaqorrub kepadaNYA.  Dengan niat yang ikhlas dan cara yang benar, insyaAllah puasa kita akan menghasilkan buah berupa taqwa.

Puasa secara bahasa berarti al-imsak, yang artinya menahan. Bukan saja kita pahami hanya menahan dari makan, minum dan bersetubuh, tetapi lebih dari itu puasa juga berarti menahan dari segala bentuk dosa dan kemaksiatan. Percuma saja kita sukses bisa menahan diri kita dari pembatal puasa tersebut, jika kita gagal menahan diri dari dosa dan kemaksiatan. Dan memang itulah hikmah puasa bisa dirasakan bagi diri dan masyarakat. Percuma kita puasa jika ucapan kita adalah ucapan kotor, jorok, murahan dan kata-kata yang sia-sia. Bahkan kita masih sering mengumpat, mencerca, menghina, memfitnah, mengadu domba, bersumpah palsu dan sejenisnya. Percuma kita puasa jika kita tidak bisa menahan pandangan mata bahkan justru mengumbarnya untuk melihat sesuatu yang haram. Percuma kita puasa jika kita masih suka mendengarkan kata-kata nista dan lagu-lagu murahan. Percuma kita puasa jika justru jauh dari Allah SWT. Maka dari itu, jadikan fisik dan hati kita senantiasa berpuasa karena boleh jadi Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita.

Puasa adalah ibadah sirriyah (rahasia). Hanya kita dan Allah sajalah yang mengetahuinya. Suami / istri kita tidak pernah tahu apakah kita-benar-benar puasa. Tetangga yang tiap hari melihat kita pun juga tidak tahu. Ayah-ibu kita meskipun tiap hari bersama kita, mereka juga tidak tahu. Bisa saja kita mengatakan puasa tetapi kita tidak pernah puasa. Bisa saja kita saat bersama dengan orang banyak menampakkan diri sebagai sosok yang sedang berpuasa tetapi tatkala tidak ada orang kita makan dan minum sepuasnya. Inilah makna tersembunyi dari ibadah puasa yang kita kerjakan. Puasa yang benar akan membuat pelakunya mempunyai kontrol diri (self control) yang tangguh. Dengan puasa kita merasa senantiasa dalam pengawasan Dzat Yang Maha Melihat. Tidak ada sedikitpun yang bisa kita sembunyikan dariNYA. Inilah seharusnya buah dari puasa yang kita kerjakan, yaitu self control. Kontrol yang bersumber dari kesadaran diri akan pengawasan Allah SWT, sehingga dalam setiap amalnya akan senantiasa hati-hati. Dan pada akhirnya tidak ada ruang sedikitpun baginya untuk berbuat dosa dan maksiat kepadaNYA. Maka jadikanlah Ramadhan kali ini bisa menciptakan self control pada diri, karena boleh jadi Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang terakhir bagi kita

Puasa adalah cerminan keimanan seorang hamba. Makanya perintah puasa hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman, Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikum asy-syiyam……. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak sembarangan orang bisa sukses menjalankan ibadah puasa tersebut. Hanya orang-orang dengan keimanan yang kuatlah yang bisa menyambut seruan puasa tersebut. Maka dari itu jadikanlah diri kita sebagai hamba yang bisa menyambut seruan tersebut karena boleh jadi Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang terakhir bagi kita

Puasa secara pribadi melatih kita untuk bisa menahan diri dari kelezatan materi seperti makan dan minum. Yang mana nikmat makan dan minum tersebut selama ini mungkin selalu kita prioritaskan bahkan kita berlebih-lebihan di dalamnya. Di sini, meskipun semua itu halal kita dilatih untuk menahannya. Tentunya menahan dengan penuh keikhlasan bukan dengan keterpaksaan. hal ini mengindikasikan bahwa materi bukan segala-galannya. Masih ada yang lebih utama dari materi, yaitu akhirat. Dengan demikian, dengan berpuasa kita dituntut untuk lebih mengejar akhirat dari pada dunia. Maka dari itu jadikanlah diri kita pengejar akhirat boleh jadi Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang terakhir bagi kita

Puasa adalah ibadah pribadi sekaligus ibadah sosial yang bernuansa penuh syi’ar. Di sini kita dituntut untuk lebih peka terhadap kehidupan sosial. Ternyata masih banyak saudara-saudara kita yang masih kekurangan. Masih banyak diantara mereka yang jarang menikmati kenikmatan materi dunia berupa minum dan makan. Maka dari itu itu optimalkan Ramadhan kali ini dengan terus memupuk jiwa sosial kita karena boleh jadi Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang terakhir bagi kita.

Allahu A’lam

Posted by: MM | 30 August 2008

Maaf-maafan Jelang Ramadhan

Banyak sekali saya menerima pesan-pesan berupa ucapan maaf lahir batin pada inbox email maupun HP saya. Ada sebagian dari pesan tersebut yang menyertakan kalimat berikut:
“Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah. Do’a Malaikat Jibril itu adalah: “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
1.Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada)
2.Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri
3.Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

Tak beberapa lama ada pesan dari teman saya yang mempertanyakan keshohihan kisah hadits tersebut di atas. Saya langsung paham ke mana arah pertanyaan tersebut. Pasti ini terkait masalah adakah tuntunan maaf-maafan jelang Ramadhan? Terus terang saya juga belum pernah menemukan teks hadist tersebut tapi redaksi hadits tersebut di atas ada dalam buku Fadhilah Amal, tetapi perlu diteliti lebih lanjut derajatnya. Saya berusaha mencarinya dlm Kitab hadits yang 9, dlm Adabul Mufrod, Jami’us shoghir dll tapi belum ketemu. Mohon jika ada temen yang sudah menemukannya saya dikasih tahu.

Dalam Kitab Adabul Mufrod No. 644 ada teks hadits hampir seperti itu, yang bunyinya sbb: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, “Amin, amin, amin”. Para sahabat bertanya :“Kenapa engkau berkata ‘Amin, amin, amin, Ya Rasulullah?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata :‘Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!’, maka aku berkata : ‘Amin’. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi. ‘celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin”. (Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini derajatnya Shohih)

Baiklah, di sini saya hanya akan sedikit menyoroti tentang acara maaf-maafan jelang Ramadhan. Wajibkah?, Bid’ahkah? atau……?

Jika ada yang mewajibkan acara maaf-maafan seperti itu, saya pikir tidak berdasar sama sekali. Demikian halnya membid’ahkannya juga tidak bisa diterima, karena memang tidak ada dalil yang secara shahih dan sharih melarangnya. Menurut saya, maaf-maafan seperti itu merupakan salah satu bentuk hubungan antar manusia (hablum minan naas) dalam konteks mu’amalah. Sesuai kaidah usul fiqh, bahwa asal dari segala sesuatu (muamalah) adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya. Sebaliknya asal dari segala bentuk ibadah adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkannya. Berdasarkan pemahaman ini, maka acara maaf-memafkan antara sesama manusia adalah dibolehkan dilakukan kapan saja dan dimana saja tatkala ada dosa yang dilakukan kepada saudaranya. Tetapi perlu ditekankan, yang tidak boleh adalah jika ada kata “harus” pada momen-momen tertentu, semisal harus saat jelang puasa atau harus saat akhir puasa, hari-hari lainnya tidak boleh. Maaf-maafan jelang puasa itu boleh tapi tidak harus apalagi menghubungkannya dengan syarat keabsahan puasa. Apa dasarnya? Dasarnya adalah dalil umum tentang pentingnya maaf-memaafkan baik di dalam Al-Qur’an maupun hadits. Karena berdasarkan kaidah fiqh, selama belum ada dalil yang sifatnya khusus (khosh) maka digunakan dalil yang sifatnya umum (amm)

Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat mengenai hal tersebut:

Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (QS Al-A’raf: 199)

Maka maafkanlah dengan cara yang baik. (QS Al-Hijr: 85)

Orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali Imran: 134)Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (QS Asy-Syura: 43)

Secara umum saling bermaafan itu dilakukan kapan saja, tidak harus menunggu momentum Ramadhan atau Idul Fithri. Karena memang tidak ada hadits atau atsar yang menunjukkan ke arah sana.Namun kalau kita mau telusuri lebih jauh, mengapa sampai muncul trend demikian, salah satu analisanya adalah bahwa bulan Ramadhan itu adalah bulan pencucian dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW tentang hal itu.Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menegakkan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, maka Allah telah mengampuni dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari dan Muslim)

Kalau Allah SWT sudah menjanjikan pengampunan dosa, maka tinggal memikirkan bagaimana meminta maaf kepada sesama manusia. Sebab dosa yang bersifat langsung kepada Allah SWT pasti diampuni sesuai janji Allah SWT, tapi bagaimana dengan dosa kepada sesama manusia?Jangankan orang yang menjalankan Ramadhan, bahkan mereka yang mati syahid sekalipun, kalau masih ada sangkutan dosa kepada orang lain, tetap belum bisa masuk surga. Oleh karena itu, biar bisa dipastikan semua dosa terampuni, maka selain minta ampun kepada Allah di bulan Ramadhan, juga meminta maaf kepada sesama manusia, agar bisa lebih lengkap. Demikian latar belakangnya.

Maka meski tidak ada dalil khusus yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW melakukan saling bermafaan menjelang Ramadha, tetapi tidak ada salahnya bila kita melakukannya tapi jangan sekali-kali mengkhususkannya. Memang seharusnya bukan hanya pada momentum Ramadhan saja, sebab meminta maaf itu dilakukan kapan saja dan kepada siapa saja. Idealnya yang dilakukan bukan sekedar berbasa-basi minta maaf atau memaafkan, tetapi juga menyelesaikan semua urusan. Seperti hutang-hutang dan lainnya. Agar ketika memasuki Ramadhan, kita sudah bersih dari segala sangkutan kepada sesama manusia.

Beramaafan boleh dilakukan kapan saja, menjelang Ramadhan, sesudahnya atau pun di luar bulan itu. Dan rasanya tidak perlu kita sampai mengeluarkan vonis bid’ah bila ada fenomena demikian, hanya lantaran tidak ada dalil yang bersifat eksplisit. Sebab kalau semua harus demikian, maka hidup kita ini akan selalu dibatasi dengan beragam bid’ah. Bukankah ceramah tarawih, ceramah shubuh, ceramah dzhuhur, ceramah menjelang berbuka puasa, bahkan kepanitiaan i’tikaf Ramadhan, pesantren kilat Ramadhan, undangan berbuka puasa bersama, semuanya pun tidak ada dalilnya yang bersifat eksplisit?Lalu apakah kita akan mengatakan bahwa semua orang yang melakukan kegiatan itu sebagai ahli bid’ah dan calon penghuni neraka? Kenapa jadi mudah sekali membuat vonis masuk neraka?Apakah semua kegiatan itu dianggap sebagai sebuah penyimpangan esensial dari ajaran Islam? Hanya lantaran dianggap tidak sesuai dengan apa terjadi di masa nabi?

Kita umat Islam tetap bisa membedakan mana ibadah mahdhah yang esensial, dan mana yang merupakan kegiatan yang bersifat teknis non formal. Semua yang disebutkan di atas itu hanya semata kegiatan untuk memanfaatkan momentum Ramadhan agar lebih berarti. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan niat untuk merusak dan menambahi masalah agama. Namun kita tetap menghormati kecenderungan saudara-saudara kita yang gigih mempertahankan umat dari ancaman dan bahaya bid’ah. Isnya Allah niat baik mereka baik dan luhur.

Allahu A’lam bish-showab

Posted by: MM | 30 August 2008

Mas, Puasanya Tanggal Berapa Sih?

“Mas, puasanya tanggal berapa sih?” “Trus idul Iednya tanggal berapa?” Itulah pertanyaan yang sering saya dengar menjelang datangnya Ramadhan. Terlalu sering, dan anehnya hampir tiap tahun ada saja pertanyaan semacam itu. Seolah tidak pernah akan ada jawaban yang pasti. Saya sih kalau ditanya, enak aja saya jawab, puasa ya mulai tanggal 1 Ramadhan dan Iedul Fitri tanggal 1 Syawal. Saya tahu, bukan itu jawaban yang dikehendaki dari sekian banyak pertanyaan sejenis yang sering kita dengar. Tapi lebih ke arah, kapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal, yang dengannya kita mulai puasa dan mengakhiri puasa Ramadhan?

Saya tak habis pikir, mengapa pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu menggaung hampir tiap tahun menjelang Ramadhan? Bukankah semestinya ada pertanyaan semisal untuk bulan-bulan hijriyah lainnya? Kapan 1 Muharram? Kapan 1 Shofar? Kapan 1 Robi’ul Awal? Kapan 1 Dzulhijjah? dan seterusnya. Mengapa hal itu tidak terjadi?

Sangat dimungkinkan, sebagian besar kita belum atau bahkan tidak pernah tahu kelender Islam. Banyak diantara kita lebih lebih hafal 25 Desember dari pada 10 Dzulhijjah, lebih kenal 17 Agustus daripada 17 Ramadhan. Mereka lebih familiar dengan Tahun Baru Masehi 1 Januari daripada Tahun Baru Islam 1 Muharram. Jauh-jauh hari sebelum 1 Januari hadir, kita sudah memperiapkan segala acara yang menarik dan meriah, tapi giliran 1 Muharram kita cuek saja seakan tak pernah tahu.

Kembali ke pertanyaan di atas tentang kapan 1 Ramadhan. Sampai kapan pertanyaan tersebut akan kita dengar? Saya kadang bartanya dalam hati, kapan ya saya tidak akan mendengar pertanyaan seperti itu lagi?. Mungkinkah hal itu bisa terjadi? Saya yakin bisa, insya Allah. Mungkin banyak yang menyangsikan kemungkinan tersebut karena perbedaan masalah tersebut sudah tidak bisa disatukan lagi.

Ada dua poin penting terkait perbedaan tersebut: Pertama, apakah metode ru’yatul hilal ataukah hisab yang benar ataukah keduanya?. Kedua, soal mathla’ (tempat munculnya hilal) apakah menganut mathla’ global ataukah setiap negara punya mathla’ sendiri-sendiri? Perbedaan ini bukan saat ini saja muncul, tapi sejak dulu para ulama ahlul fiqh juga ada perbedaan cara pandang masalah tersebut.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana mengkompromikan perbedaan tersebut sehingga dicapai suatu kesepakatan yang bisa menyatukan ummat? Ada satu kata kunci yang sering terlupakan terkait perbedaan tersebut, yaitu persatuan ummat. Saya pikir persatuan ummat jauh lebih penting dan jauh lebih perlu diwujudkan daripada memelihara perbedaan tersebut. Bagaimana persatuan ummat ini bisa terwujud? Tentunya harus ada pihak yang menjadi penyatu, yaitu ulil amri (pemimpin ummat). Inilah yang selama ini sering terlupa. Banyak diantara ummat Islam yang sudah tidak taat pada pemimpin. Padahal taat kepada pemimpin dalam hal kebaikan adalah suatu kewajiban. Bukankah Rasulullah pernah bersabda: ““Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Mungkin ada yang menyanggah, tapi bukankah pemerintah kita bukanlah pemerintah yang adil, sehingga hilang kewajiban bagi kita untuk taat kepadanya. Baiklah silakan baca Sabda Rasulullah berikut ini:  “Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan (terhadap penguasa) yang bertakwa. Yang kami tanyakan adalah ketaatan terhadap penguasa yang berbuat demikian dan demikian (ia sebutkan kejelekan-kejelekannya).” Maka Rasulullah bersabda: “Bertakwalah kalian kepada Allah, dengarlah dan taatilah (penguasa tersebut).” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitab As-Sunnah, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah Fitakhrijis Sunnah, 2/494, no. 1064)

Juga hadits berikut: “Seburuk-buruk penguasa kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (memberontak)?” Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yang tidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya dan jangan mencabut/meninggalkan ketaatan (darinya).” (HR. Muslim, dari shahabat ‘Auf bin Malik, 3/1481, no. 1855)

Menetapkan awal dan akhir Ramadhan bukanlah wewenang tiap individu tapi wewenang ulil amri. Bukan pula wewenang ormas, kelompok, jamaah atau parpol tertentu, selama mereka semua berada dalam sistem pemerintahan yang sah. Lalu siapakah yang dimaksud ulil amri tersebut? Imam An-Nawawi mengatakan bahwa yang dimaksud ulil amri adalah orang-orang yang Allah SWT wajibkan untuk ditaati dari kalangan para penguasa dan pemimpin ummat. Maka kita selaku ummat Islam yang berada di Indonesia,  selayaknya taat pada pemerintah terkait penetapan awal dan akhir Ramadhan.

Puasa Ramadhan merupakan salah satu syiar kebersamaan ummat Islam dan syiar tersebut tidak akan terwujud tanpa adanya ketaatan kepada pemimpin. Selain itu penentuan pelaksanaan puasa Ramadhan adalah suatu yang ma’ruf (kebaikan) bukan kemaksiatan, sehingga tidak dibenarkan bagi kita mengingkari pemerintah dalam hal ini. Tidak perlu bagi kita mengedepankan ego dan pendapat. Tidak harus ada pada kelompok tertentu kewenangan penetapan Ramadhan. Mari kita duduk bersama dengan hati bersih mengoptimalkan ilmu untuk kemaslahatan ini. Berbeda pendapat boleh-boleh saja, tetapi tidak perlu sampai gontok-gontokan, memaksakan kehendak, mengkalaim, menghina, menyalahkan dan lainnya.

Jika kesadaran tersebut sudah benar-benar terpatri pada setiap individu muslim, insya Allah persatuan ummat akan terwujud dan tidak akan ada lagi pertanyaan klise, “Mas, puasanya tanggal berapa sih?

Allahu A’lam Bish-showab

Posted by: MM | 28 August 2008

Makan apa ya hari ini?

“Makan apa ya hari ini?” Itulah pertanyaan yang senantiasa saya dengar saat menjelang makan siang di kantor. Pertanyaan yang seakan sudah menjadi wajib ditanyakan pada diri sendiri. Dan terkadang pertanyaan tersebut terucap tanpa adanya kesadaran. Mungkin karena begitu seringnya diucapkan oleh sebagian besar orang.

Apa yang salah dengan pertanyaan tersebut? Memang tidak ada yang salah. Tapi pertanyaan tersebut suatu hari mengagetkan hati saya. Seakan hati ini baru terbangun dari tidur panjangnya. Ada sesuatu yang membuat hati ini merenung, memikirkan pertanyaan di atas, “makan apa ya hari ini?”.

Setelah saya pikir-pikir itu adalah pertanyaan yang bisa membuat sakit hati bagi para dhu’afa’ (orang-orang miskin). Mereka akan merasa tersinggung mendengan pertanyaan seperti itu. Mengapa? Karena pertanyaan seperti di atas adalah milik para aghniya’ (orang-orang kaya). Orang-orang kaya akan terbiasa mengucapkan pertanyaan itu karena memang mereka bisa memilih, apa yang akan dimakan, Tetapi bagi orang-orang miskin, jangankan memilih, ada yang dimakan saja sudah untung. Maka tidak jarang pertanyaan yang keluar dari mulut mereka adalah, “Apa yang bisa dimakan hari ini?” bukan “Makan apa ya hari ini?”

Saat kita melayangkan pertanyaan “Makan apa ya hari ini?”, ternyata di luar sana ribuan bahkan jutaan orang sedang berpikir berat bagaimana mendapatkan sesuap nasi untuk mengganjal perut mereka. Tak jarang seharian penuh tidak ada sesuap nasipun yang numpang lewat dalam perut mereka. Na’udzubillah. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Dalam setiap materi pelajaran yang saya peroleh dulu sewaktu SD, SMP, SMU bahkan di bangku kuliah, Indonesia selalu dibangga-banggakan sebagai negara yang gemah ripah loh jinawe, negara yang kaya raya, makmur sentosa, subur, penuh berkah. Kakek-nenek pun sering bercerita sampai berbusa-busa tentang surga Indonesia. Setiap menjelang tidur Bapak Ibu selalu bilang bahwa negara kita kaya raya. “Benarkah?” Pertanyaan tersebut tak ayal muncul dari bibir ini tatkala melihat realita. Benarkah Indonesia seperti apa yang ada dalam buku-buku pelajaran? Benarkah Indonesia seperti apa yang diceritakan nenek dan kakek dulu? Tapi mengapa, banyak penghuni negara ini yang berada di bawah garis kemiskinan?

Pasti ada yang salah!. Itulah teriakan tegas dan jelas yang selalu muncul dari lubuk hati ini. Seolah teriakan tersebut telah menjadi keyakinan yang mendarah daging di dalam jiwa ini. Pasti ada yang salah! Lalu apanya yang salah? Hati ini terus mencoba mengidentifikasinya. Hanya ada 3 kemungkinan.

Pertama, Indonesia tidaklah seperti apa yang tertulis dalam buku-buku pelajaran, tidak seperti apa yang diceritakan oleh pendahulu-pendahulu kita. Kedua, Indonesia memang punya sumber daya yang melimpah tetapi pengelolaannya yang tidak tepat. Ketiga, rakyatnyalah yang tidak mau dan tidak mampu dipacu menjadi bangsa yang mandiri.

Berdasarkan data-data dan fakta yang ada, kemungkinan pertama jelas salah, karena jelas bahwa bangsa kita merupakan bangsa yang besar yang dikaruniai berbagai sumber daya yang melimpah. Tidaklah salah jika Indonesia mendapat julukan Jamrud katulistiwa. Jika kemungkinan pertama salah, berarti kesalahan terjadi karena kemungkianan kedua dan atau ketiga. Jadi, yang paling bertanggung jawab terhadap permasalahan bangsa kita adalah pengelola negara dan rakyat itu sendiri.

Permasalahan bangsa kita harus diselesaikan dengan sistem top down dan bottom up. Pemerintah selaku pengelola negara harus benar-benar memiliki visi dan misi yang jelas (visioner) juga memiliki kapasitas yang memadai untuk mengelola (capable). Mereka harus benar-benar mengenali setiap permasalahan yang ada yang mampu memberikan solusi (solutive). Mereka harus merupakan figur-figur teladan yang senantiasa mengutamakan kemaslahatan bukan pengagung dan pengagum pribadi.

Disamping itu, semua elemen masyarakat harus punya kesadaran untuk merubah diri. Sedikit demi sedikit meninggalkan budaya dan kebiasaan bangsa terjajah menuju budaya dan kebiasaan bangsa yang merdeka. Tetap mempertahankan harga diri bukan justru merendahkannya atau bahkan mengambakan diri pada materi. Berusaha mengoptimalkan segala potensi yang pasti ada pada setiap diri.

Memang, sudah terlalu akut permasalahan yang kita hadapi. Tetapi dengan usaha dan kerja keras serta keikhlasan kita, insyaAllah akan ada solusi. Semoga ke depan tidak ada lagi pertanyaan “Apa yang bisa dimakan hari ini?”. Yakinlah HARAPAN ITU MASIH ADA!

Posted by: MM | 28 August 2008

Mulai Dari Titik Akhir

Bayangkan, Anda sedang berjalan menuju suatu tempat. Tempat yang khusus untuk menyiapkan peralatan jenazah, yaitu keranda. Bayangkan Anda sampai di tempat tersebut, kemudian Anda melihat keranda tersebut dibawa oleh sebuah mobil menuju sebuah rumah yang tidak asing bagi Anda. Rumah tersebut adalah rumah Anda. Bayangkan, kemudian Andalah yang menempati keranda tersebut. Kemudian Anda yang berada dalam keranda tersebut diantar oleh banyak orang menuju persemayaman terakhir. Anda diantar oleh istri/suami, keluarga, tetangga, teman kantor dan lainnya. Bayangkan, sebelum Anda dimasukkan ke liang lahat ada 4 orang yang akan memberikan kesaksian tentangg diri Anda. Kempat orang tersebut adalah istri/suami, sahabat karib, tetangga dan teman bisnis Anda. Saat itu mereka akan mengatakan apa saja tentang diri Anda. Dan Anda tidak bisa sedikitpun membela diri, menyanggah, merevisi, membantah ataupun mengelak. Apa yang diucapkan oleh kempat orang tersebut tentang Anda adalah benar-benar mencerminkan diri Anda. Dan semua orang yang mendengar akan menilai Anda seperti apa yang telah diucapkan oleh keempat orang tersebut. Apa kata-kata yang Anda harapkan untuk diucapkan oleh keempat orang tersebut?

Sekarang, bangunlah Anda dari lamunan itu. Jawablah dari dalam hati Anda yang paling dalam. “Ucapan apa yang saya harapkan dari orang-orang dekat mengenai diri saya saat saya pergi meninggalkan dunia?” Tentunya Anda ingin, saat meninggal hanya penilaian yang baik yang keluar dari semua orang tentang diri Anda. Sudahkah Anda yakin penilaian itu yang akan Anda terima kelak? Anda sendiri yang tahu.

Jangan khawatir, Anda belum meninggal seperti apa yang Anda bayangkan di atas. Anda masih punya kesempatan untuk hidup dan memperbaiki diri meskipun tidak pernah tahu sampai kapan kesempatan itu selalu ada. Mungkin satu menit lagi, satu jam, satu hari, satu bulan, satu tahun dan seterusnya. Tidak ada satupun orang yang tahu kapan ajal menjemput Anda. Itulah kepastian misterius. Dikatakan kepastian, karena kematian adalah suatu yang pasti akan dialami oleh setiap makhluk hidup. Dikatakan misterius, karena siapapun tidak akan tahu kapan ia akan mengalami kematian tersebut.

Seberapapun sisa kesempatan hidup yang Anda miliki, gunakanlah sebaik-baiknya. Mulailah dari akhir, lakukan segala aktivitas perpacu dari akhir yang kita harapkan. Mulailah dari kondisi akhir kehidupan yang telah Anda bayangkan tadi. InsyaAllah setiap langkah Anda akan terfokus pada kondisi akhir kehidupan yang Anda harapkan.

Jika Anda berharap saat Anda meninggalkan dunia hanya kata-kata baik tentang diri Anda yang terucap dari setiap orang maka lakukanlah segala hal supaya kata-kata tersebut benar-benar akan Anda peroleh. Ucapan orang tentang Anda adalah cerminan diri Anda yang sebenarnya. Tidak mungkin akan keluar ucapan-ucapan mulia tentang diri Anda jika Anda tidak benar-benar mulia dan memuliakan manusia lain. Tidak mungkin akan ada ucapan kebaikan dari orang lain jika Anda tidak pernah baik dan berbuat baik kepada orang lain. Jangan harap istri/suami Anda nanti memuji dan memuliakan Anda jika Anda benar-benar tidak pernah memuji dan memuliakan istri/suami Anda saat Anda hidup dulu. Jangan harap ada ucapan-ucapan haru, penuh simpatik, penuh hormat yang keluar dari sahabat karib Anda jika Anda sebelumnya merupakan orang yang paling hina dimatanya. Jangan harap ada ucapan-ucapan kemulian tentang diri Anda dari para tetangga Anda jika selama hidup Anda memang tidak pernah memuliakan tetangga. Jangan harap ada ucapan-ucapan penuh kejujuran dan simpatik yang keluar dari bibir para teman bisnis anda jika selama ini Anda tidak pernah berbuat jujur pada mereka. Dan sekali lagi jangan harap mereka semua merasa kehilangan akan kepergian Anda jika Anda tidak pernah sedikitpun menebar kebaikan di mata mereka.

Jika Anda berharap saat ajal menjemput, hanya kalimat-kalimat thoyibah yang terucap dari mulut Anda, maka lakukanlah segala hal agar kondisi itu benar-benar terjadi pada Anda. Tidak mungkin kalimat-kalimat thoyibah yang akan keluar dari bibir Anda jika selama di dunia Anda tidak pernah sama sekali mengucapkan kalimat tersebut. Bahkan sebaliknya Anda sering mengucapkan kata-kata kotor, jorok, hina, murahan dan sejenisnya. Atau Anda justru mengumbar lisan untuk menfitnah, menipu, membohongi, menghina, menuduh, mengadu domba dan semisalnya.

Jika Anda menginginkan surga dan segala kenikmatan di dalamnya, maka berbuatlah didunia apa saja asalkan dalam bingkai Ridho Allah. Dunia adalah arena untuk menanam kebaikan sebanyak-banyaknya. Surga tidak mungkin bisa dicapai hanya dengan bermalas-malasan dan terus memupuk kemaksiyatan

Jika Anda berharap kelak di akhirat Anda ingin melihat wajah Allah, maka muliakanlah wajahNYA semasa di dunia. Sembahlah Allah semata dengan segenap jiwa dan raga Anda. Jangan sekutukan Allah dengan sesuatu apa pun selainNYA. Taatlah terhadap seluruh perintah dan laranganNYA. Tidak mungkin wajah Allah kelak mampu dilihat oleh orang-orang yang berlinang dalam kekufuran dan kemaksiatan

Sungguh sangat sulit mengawal diri senantiasa berada dalam tujuan akhir. Tetapi selama Anda punya komitmen insya Allah anda bisa senantiasa berjalan di atas rel tujuan akhir tersebut. Mulailah dari titik akhir kematian. ”Dengan cara apa nanti saya akan mati?” Itulah kata kunci yang harus senantiasa kita tanyakan pada diri kita untuk mengawal komitmen kita. Akhirnya,  Mulailah dari titik akhir, Niscaya Anda Selamat!

Beberapa waktu lalu ada ikhwah yang menanyakan tentang Misteri Segitiga Bermuda, kaitannya dengan Setan dan Munculnya Dajjal. Saya sebenarnya juga kurang begitu mengetahui tentang hal itu. Kemudian saya coba browsing dan membuka buku-buku yang membahas jin dan setan. Sebenarnya saya juga sangat penasaran tentang misteri Segitiga Bermuda yang sampai sekarang masih menyisakan segudang tanda tanya. Apakah misteri tersebut murni gejala alam? Ataukah ada hubungannya dengan alam ghoib? Allahu a’lam. Berikut saya coba menulis tentang Misteri tersebut. Selamat membaca!

A.    MISTERI SEGITIGA BERMUDA
Segitiga Bermuda
(Bermuda Triangle), terkadang disebut juga Segitiga Setan adalah sebuah wilayah misterius di Samudra Atlantik seluas 1,5 juta mil2 atau 4 juta km2 yang membentuk garis segitiga antara tiga titik, yaitu:
1.     Bermuda, wilayah teritorial Britania Raya sebagai titik di sebelah utara,
2.     Puerto Riko, teritorial Amerika Serikat sebagai titik di sebelah selatan dan
3.     Miami, negara bagian Florida, Amerika Serikat sebagai titik di sebelah barat.
Misteri Segitiga Bermuda sampai saat ini belum bisa terungkap. Sejak tahun 40-an sampai saat ini sejarah mencatat telah terjadi berbagai peristiwa misterius lenyapnya pesawat dan kapal laut di kawasan tersebut. Seorang spesialis peristiwa–peristiwa misterius kelautan bernama Vincent Cadys, mengatakan bahwa daerah Segitiga Bermuda sangat berbahaya bagi pelayaran dan penerbangan. Kurang lebih 100 pesawat dan kapal laut hilang di daerah ini dan korbannya mencapai lebih dari 1000 orang. Adapun beberapa peristiwa yang berhasil dicacat antara lain:
1940: Kapal HMS Rosalie milik Perancis hilang
1945: “Kuburan Atlantik” merupakan malapetaka yang menimpa ekspedisi penerbangan 19. Semua pesawat menghilang tanpa ada kejelasan
1952: Pesawat British York transport lenyap dengan 33 penumpang
1962: US Air Force KB-50, sebuah kapal tanker, lenyap
1970: Kapal barang Perancis, Milton Latrides lenyap; berlayar dari New Orleans menuju Cape Town.
1972: Kapal Jerman, Anita (20.000 ton), menghilang dengan 32 kru 1976: SS Sylvia L. Ossa lenyap dalam laut 140 mil sebelah barat Bermuda.
1978: Douglas DC-3 Argosy Airlines Flight 902, menghilang setelah lepas landas dan kontak radio terputus
1980: SS Poet; berlayar menuju Mesir, lenyap dalam badai
1995: Kapal Jamanic K (dibuat tahun 1943) dilaporkan menghilang setelah melalui Cap Haitien
1997: Para pelayar menghilang dari kapal pesiar Jerman
1999: Freighter Genesis hilang setelah berlayar dari Port of Spain menuju St Vincent
Itulah beberapa peristiwa misterius yang telah terjadi di sekitar kawasan Segitiga Bermuda. Dan anehnya sampai sekarang tidak diketahui apa sebenarnya penyebab dari peristiwa tersebut. Telah banyak upaya yang dilakukan oleh para ilmuwan untuk menguak misteri tersebut. Tanggapan dan dugaan-dugaanpun semakin banyak bemunculan dari para pengamat. Berikut beberapa pemikiran yang muncul:
a.     Di daerah Segitiga Bermuda terdapat sebuah medan magnetik yang sangat kuat, yang sanggup mengganggu kompas atau menarik kapal sampai ke dasar laut
b.     Mungkin di udara terdapat semacam gangguan atmosfir yang berupa lubang di langit, sehingga pesawat yang masuk ke lubang tersebut tidak bisa keluar lagi. Dari misteri lubang langit tersebut membentuk sebuah teori adanya semacam hubungan antara dunia dengan dimensi lain berupa lorong waktu. Jadi pesawat dan kapal yang hilang tadi masih tetap hidup tetapi berada di tempat dan waktu yang lain 
c.      Adanya bahaya alam/ gempa yang dapat menarik kapal tersedot. Adanya putting beliung atau pusaran angin yang dapat menyebabkan hancurnya pesawat karena terhempas.
d.     Adanya bermacam-macam arus yang berkumpul di daerah Segitiga Bermuda, sehingga mungkin saja arus bawah tiba-tiba berubah ke permukaan dan menyebabkan pusaran air. 
e.     Ada tempat di Segitiga Bermuda yang disebut Lidah Lautan (tongue of the ocean) yang mempunyai jurang bawah laut Bahama. Mungkin kapal tersebut masuk ke jurang tersebut
f.      Konon di sekitar kepulauan Bahama terdapat blue hole, yaitu semacam gua lautan. Dulu gua ini memang ada tetapi setelah zaman es berlalu gua ini terendam.
g.     Daerah Segitiga Bermuda merupakan daerah pusat kerajaan iblis dan setan-setan pengikutnya mengendalikan kegiatannya untuk mempengaruhi manusia supaya sesat.
h.     Adanya gangguan dari makhluk-makhluk dari dunia lain, seperti misteri Naga Laut yang pernah muncul di tanjung Ann-AS, misteri Makhluk Laut Sargasso, Penguasa Laut, aliens dan sejenisnya.  

B.     MISTERI UFO
UFO (Unidentified Flying Object) atau disebut BETA (Benda Terbang Aneh) atau BETEBEDI (Benda Terbang Belum dikenal) adalah istilah yang digunakan untuk seluruh fenomena penampakan benda terbang yang tidak bisa diidentikasikan oleh pengamat dan tetap tidak teridentifikasi walaupun telah diselidiki. Atau juga bisa dikatakan, UFO merupakan penampakan fenomena-fenomena misterius di angkasa dalam bentuk seperti piring terbang (Flying Saucer). Seperti halnya Segitiga Bermuda, UFO juga merupakan peristiwa misterius yang sampai sekarang belum bisa terkuak.

Beberapa catatan dari zaman kuno terkait UFO

Ukiran kayu pada tahun 1566 karya Hans Gleser, yang melukiskan kejadian di Nuremberg tahun 1561.
a.     Sastra Hindu Kuno, Ramayana, menguraikan penggunaan mesin terbang rumit, yang kemudian menjadi objek terhadap spekulasi tentang BETA.
b.     Penulis Romawi, Iulius Obsequens, menulis bahwa pada tahun 99 SM, “di Tarquinia menjelang matahari terbenam, objek bulat, seperti globe, perisai bundar atau bulat, terbang di langit dari barat menuju timur”.
c.      Pada zaman Nabi Muhammad SAW, Usaid bin Hudhair melihat gumpalan awan yang menyerupai payung. Awan tersebut terlihat sangat indah dihiasi dengan benda berkedip-kedip seperti lampu bergantungan, terang bercahaya. Akhirnya awan tersebut terbang lebih tinggi kemudian menghilang

Beberapa Penampakan di jaman modern terkait UFO
a.     Pada bulan Juli 1868, penyelidik BETA mendokumentasikan penampakan piring terbang yang yang terjadi di kota Copiapo, Chili.
b.     Pada tanggal 25 Januari 1878, Denison Daily News menulis bahwa petani lokal yang bernama John Martin melaporkan penampakan objek terbang yang besar, gelap, dan bulat menyerupai balon terbang “dengan kecepatan yang menakjubkan”. Ia membandingkan ukuran objek tersebut saat berada di atas kepalanya sebagai “piring yang besar”.
c.      Insiden Fátima atau “Keajaiban dari Matahari”, disaksikan oleh puluhan orang di antara ribuan orang di Fátima, Portugal pada tanggal 13 Oktober 1917, dipercaya oleh beberapa peneliti bahwa kejadian itu benar-benar merupakan peristiwa penampakan piring terbang.
d.     Dalam pihak Eropa maupun pihak Jepang selama Perang Dunia II, penampakan “Pejuang musuh” (bola bercahaya dan terdapat bentuk lainnya yang mengikuti pesawat) dilaporkan oleh kedua pihak dan pilot negara yang berseteru
e.     Pada tangal 25 Februari 1942, tentara Amerika Serikat mendeteksi adanya pesawat terbang tak dikenal yang diamati lewat pandangan mata dan pada radar di atas Los Angeles, wilayah Kalifornia. Asal-usul pesawat tersebut tidak pernah diketahui. Insiden tersebut kemudian dikenal sebagai “Pertempuran Los Angeles”, atau “Peyerangan udara di pesisir barat”.[13
f.      Pada masa akhir Perang Dunia II, kemahsyuran BETA dimulai dengan laporan penampakan benda terbang aneh oleh seorang pengusaha Amerika, Kenneth Arnold, pada tanggal 24 Juni 1947 ketika mengendarai pesawat pribadinya di dekat Gunung Rainier, Washington. Ia melaporkan penampakan sembilan objek terbang bersinar melintasi Gunung Rainier menuju Gunung Adams dengan "kecepatan yang luar biasa". Dia bercerita kepada seorang wartawan surat kabar bahwa benda itu bergerak dengan kecepatan 1600km/jam.[3] Arnold kemudian mengatakan bahwa mereka “terbang seperti piringan jika dilemparkan melintasi air” dan ia juga mengatakan bahwa mereka “gepeng seperti kue pai”, “berbentuk seperti piring”, dan “berbentuk seperti bulan sabit, lonjong di depan dan cembung di belakang, … mereka kelihatan seperti cakram pipih yang besar” (namun kemudian penampakannya digambarkan berbentuk seperti sabit). Laporan Arnold tersebut membuat masyarakat dan media masa terarik sehingga munculah istilah “Piring Terbang” dan “Cakram Terbang”. Setelah laporan Arnold menjadi terkenal, beberapa minggu kemudian ratusan laporan penampakan yang berbeda bermunculan, banyak yang berasal dari Amerika Serikat, namun dari negara lain juga cukup banyak. Mungkin yang paling terkenal di antara laporan tersebut adalah laporan dari awak pesawat United Airlines, yang melihat penampakan sembilan objek seperti cakram di atas Idaho pada petang hari tanggal 4 Juli. Pada masa itu, penampakan tersebut lebih banyak diperbincangkan daripada laporan Arnold dan membuat seolah-olah mempercayai apa yang pernah dilaporkan oleh Arnold. Beberapa hari kemudian banyak surat kabar di Amerika yang dipenuhi oleh berita terbaru tentang “piring terbang” atau “cakram terbang” pada halaman depannya 

C. KAITAN SEGITIGA BERMUDA DAN UFO DENGAN SETAN DAN DAJJAL
Berdasarkan catatan sejarah, berbagai informasi dan pengakuan dari para pelaku, memang benar secara fakta telah terjadi berapa peristiwa tragis di seputar kawasan Segitiga Bermuda, Samudra Atlantik. Juga banyak pengakuan dari pelaku yang menyatakan melihat benda terbang aneh berbentuk seperti piring (flying saucer) yang sampai saat ini populer disebut UFO (unidentified flying object). Penyebutan ini, secara tidak langsung merupakan pengakuan betapa sedikitnya ilmu manusia. Memang sampai saat ini obyek terbang tersebut belum bisa diidentifikasi atau bahkan sampai hari akhir kelak tidak akan benar-benar teridentifikasi, Allahu a’lam.     
Berbagai argument, dugaan, penafsiran dan tanggapan terhadap peristiwa misterius tersebut masih terus santer disuarakan baik oleh para ilmuwan, pemuka agama bahkan orang awam ikut berkomentar. Ada yang mendasarkan argumen bahwa penyebab peristiwa misterius tersebut adalah murni gejala alam yang tidak ada kaitannya dengan “alam ghoib”. Ada juga yang mengatakan bahwa semua peristiwa tersebut ada kaitannya dengan aktivitas makhluk ghoib seperti adanya kerajaan setan, jin penguasa laut, aliens, misteri naga laut, makhluk laut Sargasso dan lain sebagainya.     
Lalu bagaimana kita sebagai seorang muslim menyikapinya?
Pertama kita harus mengembalikan segala urusan hanya kepada Allah, bahwa segala sesuatu yang terjadi atau yang menimpa seorang hamba hanya atas izin dan kehendak Allah semata (QS At-Taghobun: 11).
Kedua, Allah swt., telah memberikan ijin kepada salah satu makhluknya, yaitu bangsa jin melakukan aktifitas untuk menakuti dan menggoda manusia.
Ketiga, peristiwa misterius tersebut adalah salah satu bentuk keghoiban bagi manusia, entah itu ghoib mutlak maupun ghoib relatif. Ghoib mutlak adalah segala keghoiban yang telah Allah kabarkan kepada manusia melalui kalamNYA, seperti Dzat Allah, Malaikat, Jin, Surga, Neraka dsb. Sedangkan ghoib relatif adalah segala bentuk keghoiban yang sebenarnya ilmiah hanya saja tidak bisa diketahui manusia karena keterbatasan ilmu dan kemampuannya. Menyikapi peristiwa ghoib tersebut, kita akui bahwa sedikit sekali ilmu kita tentang itu. Allah berfirman Tidaklah Aku berikan ilmu kepada kalian kecuali hanya sedikit sekali (Al-Israa:85).  

Sekilas tentang Setan, Dajjal dan Ya’juj-Ma’juj
Mari sejenak kita cari informasi tentang misteri tersebut pada sumber informasi terpercaya milik kita, Al-Qur’an dan hadits. Al-Qur’an telah mengabarkan kepada kita tentang banyak keghoiban yang mesti kita imani secara absurd. Salah satunya tentang adanya jin, bala tentara, kerajaan, dan tabiatnya. Bangsa jin mempunyai alam sendiri yang tidak pernah bisa kita lihat, tetapi meraka bisa melihat kita. Bangsa jin diberi kekuatan yang melebihi kekuatan manusia. Bangsa jin memiliki kecepatan lari melebihi kecepatan cahaya, sehingga mereka sering pergi ke langit untuk mencuri-curi informasi dari karajaan langit. Mereka juga diberi kemampuan berubah-ubah bentuk, mereka mampu memperlihatkan diri pada manusia dalam sosok yang berbeda-beda tergantung seleranya. Rasulullah bersabda, Jin itu terdiri dari tiga golongan, pertama golongan jin yang suka terbang di udara, kedua golongan jin yang berbentuk ular dan anjing dan ketiga golongan jin yang selalu berpindah pindah. (HR Thabrani, Hakim dan Baihaqi)    
Bangsa jin adalah makhluk Allah yang juga mengemban syari’at ketuhanan. Mereka juga layaknya manusia yang mempunyai kewajiban-kewajiban syari’at yang harus dilaksanakan dan kelak juga meraka akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang telah mereka lakukan. Bangsa jin ada yang beriman, ada yang fasik, munafiq juga ada yang kafir. Menurut pendapat yang masyhur, iblis dan setan adalah salah satu dari bangsa jin yang senantiasa menggoda manusia. Demikian halnya dajjal juga merupakan manifestasi dari sifat setan atau iblis yang kelak di akhir zaman akan ditampakkan oleh Allah dalam bentuk fisik. Dajjal disebutkan berulang-ulang dalam Hadits, sedangkan Ya’juj wa-Ma’juj bukan saja disebutkan dalam Hadits, melainkan pula dalam Al-Qur’an. Dan kemunculannya yang kedua kalinya ini dihubungkan dengan turunnya Al-Masih. Kata Dajjal berasal dari kata dajala, artinya, menutupi (sesuatu). Kamus Lisanul-’Arab mengemukakan beberapa pendapat mengapa disebut Dajjal. Menurut suatu pendapat, ia disebut Dajjal karena ia adalah pembohong yang menutupi kebenaran dengan kepalsuan. Pendapat lainnya mengatakan, karena ia menutupi bumi dengan bilangannya yang besar. Pendapat ketiga mengatakan, karena ia menutupi manusia dengan kekafiran. Keempat, karena ia tersebar dan menutupi seluruh muka bumi. Pendapat lain mengatakan, bahwa Dajjal itu bangsa yang menyebarkan barang dagangannya ke seluruh dunia, artinya, menutupi dunia dengan barang dagangannya. Ada juga pendapat yang mengatakan, bahwa ia dijuluki Dajjal karena mengatakan hal-hal yang bertentangan dengan hatinya, artinya, ia menutupi maksud yang sebenarnya dengan kata-kata palsu.Kata Ya’juj dan Ma juj berasal dari kata ajja atau ajij dalam wazan Yaf’ul; kata ajij artinya nyala api. Tetapi kata ajja berarti pula asra’a, maknanya berjalan cepat. Itulah makna yang tertera dalam kamus Lisanul-’Arab. Ya’juj wa-Ma’juj dapat pula diibaratkan sebagai api menyala dan air bergelombang, karena hebatnya gerakan.      
Dalam surat Al-Kahfi, segera setelah menerangkan pertempuran satu sama lain antara Ya’juj wa-Ma’juj pada ayat 99, ayat 102 menerangkan persoalan Dajjal. “Apakah orang-orang kafir mengira bahwa mereka dapat mengambil hamba-hamba-Ku sebagai pelindung di luar Aku?”. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an mempersamakan Dajjal dengan Ya’juj wa-Ma’juj. Mereka diberi nama yang berlainan karena mempunyai dua fungsi yang berlainan. 

Adakah kaitan antara Segitiga Bermuda dengan Kerajaan Setan dan munculnya Dajjal?    
Mungkin saja hal itu bisa terjadi karena telah kita pahami bahwa setan mempunyai kekuatan melebihi kekuatan manusia. Mereka juga bisa bergerak secepat cahaya. Sangat masuk akal jika mereka mempunyai kerajaan sebagai tempat persinggahan di manapun mereka kehendaki. Mungkin saja mereka memilih kawasan segitiga Bermuda sebagai tempat karena kita tahu bahwa di kawasan tersebut terdapat pertemuan antara dua arus, yaitu arus panas dari Afrika dan arus dingin dari Amerika Utara akibat intensitas penyinaran matahari yang berbeda. Dan tempat seperti inilah yang paling disukai oleh setan. Peristiwa-peristiwa misterius di kawasan tersebut mungkin disebabkan karena adanya pusaran air yang dahsyat di pertemuan dua arus tersebut, juga karena kerajaan setan yang mungkin tersembungi di situ. Allahu A’lamKemungkinan tersebut didukung oleh tulisan seorang ulama mesir bernama Syaikh Muhamad isa Daud pada buku berjudul “Dajjal akan muncul dari Kerajaan Jin di Segitiga Bermuda”. Di dalam sinopsin buku tersebut dibahas bahwa kelak menjelang hari akhir Dajjal akan muncul dari kawasan Segitiga Bermuda. (maap saya juga belum baca)
Jika ada pertanyaan, memang jin bisa membunuh atau merusak? Jawabnya bisa, sebagaimana kasus yang pernah menimpa Nabi Ayyub a.s, di mana semua ternak dan kebunnya dimusnahkan oleh jin, tidak hanya itu bahkan semua anaknya mati olehnya dan nabi ayyub sendiri menderita penyakit kulit akibat ulah jin tersebut. Tapi perlu dicacat, semua itu hanyalah atas ijin Allah SWT. Jika Allah tidak menghendaki, niscaya sampai kapanpun jin tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu apa motivasi jin berbuat semua itu? Ada banyak motivasi, boleh jadi hanya iseng, ingin menghebohkan dunia, ingin menakuti manusia, menguji manusia, juga ingin menjerumuskan manusia. 

Kaitan antara UFO dengan Jin/Setan    
Rasulullah menjelaskan bahwa ada golongan jin yang suka terbng di udara. Mereka bisa terbang dengan kecepatan yang cukup tinggi, melebihi kecepatan cahaya. Dalam al-Qur’an Surat Al Jinn, disebutkan bahwa jin suka terbang ke langit untuk mencuri informasi rahasia dari kerajaan langit, tetapi kebanyakan dari mereka tidak bisa mendapatkan informasi tersebut karena selalu dilempari panah-panah api. Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, (QS Jin: 8).     
Dengan informasi tersebut kita bisa mengatakan kemungkinan besar misteri UFO yang selama ini populer adalah aktifitas jin, karena jin memang bisa berubah-ubah bentuk sesuai keinginan mereka. Apabila kondisi zaman semakin maju yang didukung oleh kecanggihan teknologi, maka jin/setan pun akan mengikuti tren kemajuan tersebut, sehingga mereka boleh jadi juga akan merubah bentuk mereka menjadi objek teknologi tinggi sperti piring terbang tersebut Allahu a’lam bisshowwab 
Salam
MM

 Referensi:
Dajjal akan muncul dari Kerajaan Jin di Segitiga Bermuda karya Syaikh Muhamad Isa Daud
Dajjal dan Ya’juj-Ma’juj karya Maulana Muhamad Ali, ebook version
Jin & Setan karya Umar Sulaiman Sl-Asyqar
Terjemah Tafsir Ibnu Katsir
www.indonesiaindonesia.com
www.indospiritual.com
www.wikipedia.org 

Older Posts »

Categories