I. PENDAHULUAN
Suasana Idul Fitri masih terasa hangat di hati umat Islam. Suasana yang pasti telah menyisakan aneka kenangan. Suasana indah ini tentunya tidak bisa dirasakan oleh semua orang. Hanya orang-orang yang benar-benar sukses melewati madrasah Ramadhan lah yang akan merasakan begitu indahnya idul Fitri. Keindahan yang tidak terkirakan, yang tidak mungkin bisa ditukar dengan keindahan apapun di dunia ini. Karena keindahan ini adalah keindahan yang terpancar dari surga Allah Azza wa Jalla. Rasulullah SAW bersabda, Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, yaitu saat berbuka (buka puasa dan idul fitri) dan kebahagiaan saat bertemu dengan Allah kelak di akhirat. (HR Bukhori & Muslim).
Tidak sampai di sini saja. Kebahagiaan idul fitri yang kita rasakan hendaknya bisa menjadi modal ruhiyyah yang dahsyat untuk meneruskan peran kita sebagai hamba (abdullah) dan sebagai pemimpin (khalifatullah). Inti dari idul fitri bukanlah hura-hura, bukan pula salam-salaman dan pakaian yang serba baru. Tidak pula mesti makan ketupat sayur lengkap dengan opor ayam ditambah aneka makanan dan minuman berbagai jenis yang dekat pada kemubadziran. Namun, inti idul fitri adalah kembali pada kemurnian aqidah, ibadah dan muamalah. Atau ada yang mengatakan, kembali pada fitrah penciptaan yaitu al-Islam. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS.Ar-Ruum[30]:30).
II. Kembali pada Fitrah; Membesarkan “Takbir” dan Meruntuhkan “Takabbur”
Senja malam Idul Fitri 1 Syawal diawali dengan kumandang takbir di seluruh pelosok belahan dunia. Takbir yang begitu menggema dikumandangakan oleh miliaran umat Islam. Takbir adalah pegakuan sadar seorang hamba akan kebesaran dzat yang Maha Besar. Takbir hanya pantas ditujukan kepada Allah penggenggam alam semesta beserta seluruh makhluk ciptaanNya. Membesarkan keagungan Allah dan mengakui kekerdilan diri, inilah inti dari takbir. Inilah fitrah manusia. Allahu Akbar…. Allahu Akbar…. Allahu Akbar… Laa ilaha illallah…. Allahu Akbar… wa lillahil hamdu.
Memperbanyak takbir, Allahu Akbar adalah disyariatkan pada Idul Fitri. Syariat ini bukan hanya sekedar formalitas yang tanpa makna. Bukan hanya sekedar ucapan lisan yang hambar tanpa bekas. Dengan membesarkan/ memperbanyak takbir, seorang hamba dituntut untuk memasukkan kebesan Allah dalam hatinya, sehingga ia mampu mengeluarkan segala bentuk kebesaran selain Allah dari dalam hatinya, berupa takabbur, bangga diri, perasaan sok suci, sok pintar, sok jagoan, sok kaya, sok sempurna dan lainnya. Juga segala penyakit yang membesar di hati seperti iri, dengki, hasad, fitnah, adu domba, dan penyakit-penyakit sejenis.
Selanjutnya, takbir yang kita ucapkan hendaknya bisa kita terapkan dalam realita di masyarakat. Kita tetap membesarkan Allah dan mengecilkan yang lain di manapun kita berada, baik di kantor, di pabrik, di mall, di pasar, di sawah, di jalan, di sekolah, di rumah, juga di istana. Jangan sampai takbir, tidak kita libatkan dalam aktivitas keseharian. Akibatnya timbul pornografi, manipulasi dan korupsi. Timbul pertentangan, permusuhan dan pertikaian. Timbul pencurian, penjarahan dan pemerkosaan. Timbul caci maki, adu domba dan saling curiga.
Takbir, hendaknya bisa menjadi senjata yang ampuh untuk meruntuhkan ”takabbur” dalam diri kita. Sedikitpun tidak ada yang bisa kita banggakan dari diri yang hina ini. Kita hanya hamba Allah, yang harus senantiasa mengabdi kepadaNya. Sekali kita merasa ”lebih” saat itu pula hati kita tertutup dari kebenaran. Dan setan akan terus mendukung perasaan kita tersebut. Sehingga pada akhirnya kita menjadi seorang yang takabbur. Na’udzubillah. Sifat takabbur ini sangat berbahaya dan akan menegantarkan pelakunya menuju kemurkaan Allah. Seorang yang di hatinya sudah bersemanyam takabbur/ kesombongan (al-kibr) maka pada dasarnya ia telah nyata-nyata menentang Allah. Saat itu di dalam hatinya tidak mungkin ada tauhid yang benar. Rasulullah SAW mengingatkan, ”Tidak akan masuk surga barang siapa yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan (al-kibr). Seorang sahabat bertanya, Apakah seorang yang mengenakan pakain yang indah juga termasuk takabbur? Rasulullah menjawab, Tidak, Allah itu indah dan menyukai keindahan. kesombongan adalah menolak kebenaran dan menghinakan manusia” (HR. Muslim).
Menolak kebenaran dan menghinakan manusia, itulah takabbur yang sebenarnya. Saat kita menolak kebenaran bahwa Allah adalah satu-satunya dzat Yang Maha Besar maka saat itu kita telah jatuh dalam takabbur. Dan saat itu pula berarti kita justru menghinakan diri kita sendiri karena saat itu pasti kita menganggap diri, harta, istri/suami, tahta dan segalam macam perhiasan dunia lainnya lebih besar dan lebih berarti dari pada Allah. Saat itu kita lebih mencintai dunia dari pada Allah, padahal dunia adalah sementara. Na’udzubillah. Maka mulai saat ini, besarkan ”takbir”, runtuhkan ”takabbur” niscaya kita akan selamat.
III. Keseimbangan Fitrah; antara “Kebutuhan” dan “Kesenangan”
Secara fitrah kita telah dilengkapi oleh Allah dengan potensi sumber daya yang sangat besar berbeda dengan makhluk lain. Setidaknya ada 5 potensi yang kita miliki, yaitu daya nabatiyah (RQ-Reflective Quotient), daya hayawaniyah (LQ-Libido Quotient), daya basyariyah (IQ-Intelligence Quotient), daya nafsiyah (EQ-Emotional Quotient) dan daya ruhaniyah (SQ-Spiritual Quotient). Masing-masing dari kita tidak sama tingkat potensinya. RQ dan LQ adalah potensi yang bisa dikembangkan dengan memenuhi kebutuhan fisik berupa kebutuhan perut dan sedikit di bawah perut (kemaluan) sedangkan IQ, EQ dan SQ merupakan potensi yang bisa dikembangkan dengan memenuhi kebutuhan hati dan otak.
Selama satu bulan penuh di madrasah Ramadhan kita dilatih untuk menyeimbangkan diri. Jika selama 11 bulan bulan kita sibuk memenuhi kebutuhan fisik maka selama 1 bulan kita dilatih lebih menitik beratkan pada pemenuhan kebutuhan non-fisik, mensensitifkan hati dan otak. Masalah kebutuhan fisik sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan, sedangkan kebutuhan non-fisik kaitannya dengan perkembangan. Tidak sama antara pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan manusia tidak secara langsung diikuti dengan perkembangan. Biasanya sangat mudah ketika kita harus memacu pertumbuhan tetapi sangat sulit dalam memacu perkembangan. Pertumbuhan akan berhenti pada batas usia tertentu tetapi perkembangan manusia biasanya justru akan semakin pesat sejalan dengan kematangan usia. Tugas kita disini, sebagai orang tua adalah berusaha menyeimbangkan antara pertumbuhan dengan perkembangan pada diri anak-anak kita. Setelah itu berusaha terus memacu perkembangan saat pertumbuhan fisik terhenti. Jika hanya pertumbuhan yang kita utamakan maka apa bedanya dengan binatang? Tentunya pertumbuhan anak kita kalah dengan pertumbuhan binatang semisal kambing, ayam, sapi dan sejenisnya.
Di sela-sela program kita memacu perkembangan kualitas diri ada hal-hal yang sangat mengganggu terealisasinya keseimbangan dalam diri kita. Rata-rata kita masih belum bisa membedakan antara kebutuhan dan kesenangan. Padahal jelas sekali sangat beda antara kebutuhan dan kesenangan. Tidak semua yang dibutuhkan itu sekaligus disenangai dan sebaliknya tidak semua yang dibutuhkan itu disenangi. Ternyata banyak kebutuhan yang tidak kita senangi, dan juga banyak kesenangan yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Setiap kebutuhan pasti menguntungkan tetapi kebanyakan kesenangan itu merugikan.
Orang-orang yang sukses, selamat dan bahagia adalah orang-orang yang sejak dini berlatih menyeimbangkan antara kebutuhan dan kesenangan. Yang namanya kebutuhan harus dipaksakan dan kesenangan harus dibatasi. Oleh karena itu kita harus tega memaksa diri dalam melakukan hal-hal yang memang kita butuhkan dan harus membatasi segala bentuk kesenangan yang akan menghancurkan.Sholat, puasa, zakat, shodaqoh dan menuntut ilmu merupakan kebutuhan, tetapi tidak semua orang sekaligus menyenanginya bahkan anehnya ada sebagian orang yang tidak membutuhkannya. Menikah bagi yang belum adalah suatu kebutuhan bukan hanya kesenangan, tetapi banyak pemuda yang justru tidak mau menikah karena mereka maunya hanya senang-senang saja. Menonton televisi bukanlah suatu kebutuhan tetapi lebih banyak hanya untuk kesenangan belaka. Sedikit sekali orang yang memanfaatkan televisi untuk menambah perkembangan hati dan otaknya. Anehnya, demi mendapatkan kesenangan tersebut banyak orang terbius oleh televisi. Saat di depan televisi mereka duduk manis, khusyu’, tawadhu’ dan berjamaah. Mereka taat sekali pada para presenter, ”Jangan ke mana-mana, kami akan segera kembali dengan acara yang lebih seru…! sami’naa wa atho’naa……..
Dengan momen Idul Fitri kali ini, marilah kita jadikan titik awal bagi kita agar lebih mampu memenej antara kebutuhan dan kesenangan. Sehingga pada akhirnya tidak ada aktivitas kita yang sia-sia hanya terisi dengan hal-hal yang tanpa manfaat.
IV.Tuntutan Fitrah; peningkatan kualitas diri menyongsong masa depan cemerlang
Salah satu inti dari Idul Fitri adalah syawwal yang artinya peningkatan. Setelah kita melakukan ibadah di bulan Ramadhan, maka di bulan syawal ini kita dituntut mampu menjadikan syawwal sebagai start awal untuk melakukan peningkatan kualitas diri. Kita sadar bahwa hidup ini bukan sekedar kehidupan biologis yaitu proses lahir, tumbuh, reproduksi, mati dan selesai. Bagi kita masih ada kehidupan yang lebih bernilai dan abadi yaitu kehidupan akhirat.
Jika pandangan hidup kita sudah benar, maka kita harus menggunakan segala potensi untuk meraih kesuksesan masa depan. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr[59]:18)
Kita pahami bahwa masa depan ada dua macam, yaitu masa depan sebelum mati (dunia) dan masa depan sesudah mati (akhirat). Hal ini perlu kita tegaskan kembali supaya kita tidak salah dalam memandang masa depan kita. Karena karena kelalaian dan kebodohannya, ternyata banyak orang yang ketika diajak bicara tentang masa depan yang tergambar dibenaknya hanya masa depan sebelum mati, sedangkan masa depan sesudah mati hampir-hampir tidak terpikirkan sama sekali.
Masa depan sebelum mati nilainya tidak sama dengan masa depan sesudah mati. Masa depan sesudah mati itu lebih baik, lebih abadi dan lebih pasti dari pada masa depan sebelum mati. Masa depan sebelum mati bersifat mungkin sedangkan masa depan sesudah mati bersifat pasti. Artinya, apapun yang belum terjadi di dunia ini dari sekarang sampai mati, adalah sekedar kemungkinan. Sedangkan kematian adalah pasti, hidup lagi sesudah mati adalah pasti, tentang adanya surga dan neraka tidak bisa diingkari, di surga bahagia di neraka sengsara akan terbukti. Siapa di dunia punya harta dan tahta belum tentu hidupnya bahagia, tetapi siapa yang tidak memiliki pahala bahkan justru banyak berdosa jangan harap dan mimpi akan bahagia di surga.
Lalu bagaimana kita menyikapi dua masa depan tersebut? Allah menjawabnya, Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.(QS. Al-Qoshosh[28]:77). Kerjakan yang pasti jangan abaikan yang mungkin, begitulah pesan Allah kepada kita dalam menyikapi masa depan dunia dan akhirat. Carilah akhirat jangan melupakan dunia. Seriuslah jika itu berkaitan dengan masa depan akhirat, tetapi jangan dilalaikan atau diremehkan meskipun itu hanya persoalan dunia yang belum pasti.
Untuk meraih masa depan, baik masa depan dunia maupun akhirat bukanlah sebuah persoalan yang mudah, bukan perjalanan yang mulus dan lurus. Perjalanan meraih masa depan adalah perjalanan yang mendaki dan sulit, yang harus dilewati setingkat demi setingkat dalam kehidupan. Hidup ini adalah sebuah perjalanan sekaligus perjuangan yang dihadapkan selalu ada peluang dan tantangan, kemudahan dan kesulitan, dukungan dan gangguan, peringatan dan godaan.Kesulitan, tantangan, gangguan dan godaan bukan untuk kita hindari, justru semua itu ada sebagai jalan kesuksesan kita. Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan (QS.Al-Insyrah[94]5-6). Begitulah Allah menjanjikannya. Hidup ini adalh proses membenturkan idealisme dengan realita, menguji harapan dalam keberhasilan atau paling tidak membuktikan bahwa angan-angan itu tidak sama dengan kenyataan. Ada ungkapan menarik yang bisa kita jadikan penyemangat, ”Jangan kau rintangi masa depanmu dengan membiasakan hidup mudah”
V. PENUTUP
Idul Fitri sebagai momen yang sangat penting bagi umat Islam, seharusnya kita jadikan sebagai titik pandang dalam rangka perbaikan diri menuju hamba Allah seutuhnya. Dalam artian, menjadikan kita bisa sukses kembali pada fitrah penciptaan, yaitu al-Islam. Juga sebagai sarana yang akan terus memacu kesadaran ruhani kita akan kebesaran Allah sekaligus memahamkan kita akan kekerdilan diri. Dan yang tak kalah pentingnya, bisa menjadikan kita sebagai manusia yang seimbang dalam segala hal serta menjadi motivator peningkatan kualitas diri menuju masa depan yang cemerlang. Semoga Allah senantiasa bersama kita dimanapun dan kapanpun kita berada. Allahu ta’ala a’lam
*Disampaikan dalam Acara Halal bi Halal, Dept. Cutting UHF, PT. IRC INOAC Pasar Kemis-Tangerang, Ahad, 26 Syawal 1429H
Referensi:
Tafsir Ibnu Katsir
Kecerdasan Menatap Masa Depan, Ust Didik Purwodarsono
Hadits Web, versi 3.0
Al-Quran Digital, versi 3.1