I. PENDAHULUAN
Mudik lebaran. Itulah aktifitas tahunan yang sulit untuk ditinggalkan apalagi dihilangkan. Sudah menjadi kebiasaan yang seakan sudah mendarah daging di setiap insan manusia Indonesia di perantauan. Jika satu kali saja tidak sempat mudik ke kampung halaman, seakan ada yang aneh, seakan ada yang hilang, sehingga membuat hati gelisah, cemas dan bimbang.
Berbagai upaya diusahakan demi terealisasinya satu kata, “mudik”. Tak peduli betapapun kesulitan dan kesukaran yang dihadapi untuk itu. Antrian panjang hanya untuk mendapatkan tiket mudik, lama-lama menunggu keberangkatan pesawat, berdesak-desakan di kereta, berjubel di bus, kemacetan panjang di perjalanan, bahkan ada yang capek-capek bersepeda modor dengan resiko kehujanan dan kepanasan. Tidak sedikit pula yang harus menanggung resiko kecelakaan, luka-luka dan kematian.
Mudik, adalah hal yang sangat-dinanti-nanti sekaligus merupakan obat kebahagiaan. Jauh-jauh hari sebelum waktunya tiba, mereka sudah mempersiapkan segala sesuatu dengan matang. Segala rencana disusun sedemikian rapih. Dana disiapkan sebanyak mungkin. Kendaraan terbaik disediakan khusus pengantar mudik. Segala perbekalan dan oleh-oleh di kumpulkan. Semua itu disipakan hanya untuk satu kata, bekal mudik ke kampung halaman.
Mudik, adalah aktifitas yang hanya dilakukan oleh mereka yang merantau, jauh dari kampung halaman. Bagi mereka, mudik merupakan satu hal yang istimewa dan merupakan kenikmatan yang luar biasa. Mengapa? Karena ada sesuatu yang menjadi tujuan. Ada secercah harapan terpancar jauh dari kampung halaman. Ada bayangan wajah sanyu Ibu-Bapak yang sudak mulai keriput tapi tetap menebarkan senyum yang penuh makna. Ada gelak tawa dan canda yang membingkai keceriaan pertemuan dengan saudara-saudara yang sekian lama tidak bertemu.
Mudik adalah fitrah. Setiap manusia yang sekian lama meninggalkan kampung halaman, secara fitrah pasti ingin pulang. Jika tidak pasti akan timbul keresahan dan kegundahan. Betapapun indahnya perjalanan wisata yang kita lakukan, ujung-ujungnya pun kita ingin pulang. Ada temuan yang menarik terkait masalah ini, ternyata bayi lebih merasa nyaman jika digendong oleh ibunya pada sisi kiri. Mengapa? Karena detak jantung ibu lebih bisa tertangkap oleh si bayi. Detak jantung yang sama yang dulu bayi itu dengarkan sewaktu berada dalam kandungan ibu. Bayi tersebut seakan-akan merasa pulang ke tempat awalnya. Singkatnya, setiap manusia masti senantiasa rindu untuk pulang ke asal muasalnya. Kerena itulah kita sering kangen pada orang tua, rindu pada kampung halaman dsb. Ibnu Qoyim bersyair:
Pindahkanlah hatimu sesuai selera
Tapi tiadalah cinta melainkan pada kekasih pertama
Berapa banyak tempat di bumi yang disinggahi pemuda
Tapi kerinduannya senantiasa pada persinggahan pertama
Syair tersebut mengisyaratkan sebuah fitrah cinta dan kerinduan. Cinta dan kerinduan seseorang senantiasa akan membekas pada ”sesuatu” yang pertama. Rasulullah saw., meskipun beristri banyak dan sangat mencintai istri-istrinya khususnya A’isyah ra., tetapi posisi Khodijah di hati Beliau tidak bisa digantikan oleh mereka, karena Khodijah adalah cinta pertama Beliau. Inilah fitrah yang tidak bisa diabaikan. Termasuk di dalamnya, fitrah manusia untuk pulang ke kampung halaman. Meskipun tidak ada keharusan, tetapi sulit sekali membendung kerinduan itu.
II. KEMBALI KEPADA FITRAH PENCIPTAAN
Mudik merupakan kegiatan pulang yang dilakukan oleh manusia ke kampung halamannya di dunia dimana di situ mereka pertama kali dilahirkan. Perlu kita ketahui bahwa, kampung halaman kita didunia itu sifatnya relatif. Tempat tinggal kita yang sebenarnya akan kita jumpai setelah kematian. Tempat itu adalah kampung akhirat…. Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS.Al-An’am[6]:32).
Asal muasal kita yang pertama kali ternyata bukanlah di dunia, tetapi di alam ruh di sisi Allah SWT. Dari Allah lah kita berasal dan kepadaNya lah kita akan kembali (QS Al-Baqoroh[2]:156). Dan di sisi Allah tersebut kita telah melakukan persaksian akan keesaan Allah sebagai Rabb kita. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-A’raf[7]:172, Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.
Peristiwa pengambilan persaksian yang dikisahkan dalam ayat di atas merupakan peristiwa maha dahsyat yang pernah dialami oleh manusia. Bagaimana tidak?! Ketika itu jiwa manusia tengah diambil persaksian secara langsung oleh Dzat yang maha kuasa, maha perkasa, maha besar dan maha indah, dimana keindahan semesta raya tidak berarti apa-apa dibanding keindahan-Nya.
Peristiwa pengambilan persaksian maha dahsyat tersebut pada hakekatnya menghujam kuat dalam diri manusia, tidak hanya mempengaruhi alam bawah sadar, bahkan masuk ke dalam fithrah, sehingga termasuk fithrah manusia untuk senantiasa ingin pulang, rindu dan kembali kepada-Nya. Dari-Nya kita berasal dan kepada-Nya kita kembali. Innā liLlāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.
Namun, kita sering kali terkecoh. Fithrah dan kerinduan sejati kita untuk kembali kepada-Nya tersebut sering kali tertutup oleh keindahan dunia yang semu dan imitasi. Dunia yang seharusnya hanya kita jadikan sebagai sarana untuk membuktikan sejauh mana kerinduan dan kecintaan kita kepada-Nya justru berbalik menjadi tujuan yang melalaikan kita dari-Nya. WaLlāhu musta’ān.
Mari sejenak kita renungkan dalam hati kita masing-masing. Masihkah kita ingat persaksian itu? Apakah kita masih komitmen terhadap persaksian itu? Apakah kita masih ingat akan kampung halaman kita yang sesungguhnya? Sudahkah kita mempersipkan segala sesuatu dan perbekalan menuju alam akhirat seperti halnya kita sibuk mempersipakan mudik lebaran?
Jika kita rela berdesak-desakan dalam kereta, bus dan berjubelnya jalan raya, maka seharusnya kita juga rela berdesak-desakan dan berebut dalam shaf pertama sholat. Seharusnya kita rela berlomba-lomba menebarkan kebaikan dalam rangka mendapatkan tiket surga di kampung akhirat. Jika kita menyiapkan dana begitu banyak untuk mudik, sudah sepantasnya kita persembahkan jiwa dan harta kita di jalan Allah SWT. Jika kita mudik ingin melihat wajah orang tua, saudara dan indahnya kampung halaman, maka sudah seharusnya kita juga punya harapan dan keinginan untuk bisa menikmati keindahan surga dan kenikmatan melihat wajah Allah Azza wa jalla, karena inilah kenikmatan yang sesungguhnya. Seluruh penduduk surga meskipun telah menikmati segala keindahan surga dengan segala apa yang ada di dalamnya berupa bidadari-bidadari yang jelita, permadani beraneka warna, buah-buahan beraneka jenis dan rasa, tempat tidur yang nyaman dan aneka kenikmatan lainnya, mereka semua masih belum meraskan kenikmatan yang sesungguhnya kecuali setelah mereka melihat wajah Allah SWT.
III. RAMBU-RAMBU PERJALANAN MENUJU KAMPUNG AKHIRAT
Mudik yang selalu kita lakukan adalah salah satu bagian kecil dari perjalanan pulang kita ke kampung halaman abadi, yaitu kampung akhirat. Jika perjalanan mudik saja kita persiapkan dengan matang, maka sudah selayaknya perjalanan pulang ke kampung akhirat harus lebih kita persiapkan dengan sebaik-baiknya. Di dunia ini, kita semua adalah perantau, kita semua adalah musafir. Tidak selamanya kita akan berdiam di dunia ini. Sebagaimana telah digambarkan oleh Rasulullah SAW, bahwa kita di dunia ini laksana seorang musafir yang berteduh di bawah rindangnya sebuah pohon yang kemudian akan berlalu untuk melanjutkan perjalanan. Maka Rasulullah SAW berpesan, kun fid dunya ka annaka ghoriibun aw ’aabirus sabiil, jadilah dirimu di dunia seperti orang asing atau seperti seorang musafir. (HR. Bukhori).
Itulah gambaran kehidupan kita di dunia. Dunia yang kita tempati saat ini hanyalah persinggahan sementara. Jangan sampai kita terkecoh akan keindahan dan kenikmatannya sehingga melupakan kita akan kampung akhirat. Agar perjalanan kita di dunia menuju kampung akhirat bisa sukses maka setidaknya ada beberapa rambu-rambu yang harus senantiasa kita patuhi, yaitu:
1. Menetapkan Tujuan
Sebuah perjalanan akan sukses jika pertama kali kita menetapkan suatu tujuan yang jelas. Jika kita berenacana mudik tetapi tujuan kita tidak jelas ke mana kita akan mudik, maka jangan harap kita bisa sampai pada tempat yang kita tuju, karena dari awal memang kita tidak punya tujuan.
Demikian halnya, jika tujuan perjalanan hidup kita tidak jelas jangan harap kita bisa selamat meniti perjalanan ini hingga akhir. Lalu apa tujuan hidup kita yang sebenarnya? Tujuan hidup kita adalah Ridho Allah (mardhotillah). Dan akhir dari perjalanan panjang kita di dunia adalah kampung akhirat. Allah SWT berfirman, Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya (QS Al-Baqoroh[2]:207)
2. Mempersiapkan Bekal
Bekal, apapun bentuknya sangat diperlukan dalam sebuah perjalanan. Saat kita mudik ke kampung halaman misalnya, sudah pasti kita akan menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya juga membawa oleh-oleh menarik untuk kerabat kita di kampung halaman. Kita pasti tidak mau gagal dalam perjalanan hanya karena kita kehabisan bekal.
Perjalanan kita menuju kampung akhirat jauh lebih panjang dari mudik yang selama ini kita lakukan. Perjalanan kita ini pun dalam rangka menemui dzat yang maha mulia, ialah Allah SWT maka oleh-oleh yang harus kita bawa dan kita persembahkan kepadaNYA pun harus jauh lebih spesial. Maka logikanya, bekal dan oleh-oleh yang harus kita siapkan juga harus lebih banyak dan lebih berbobot di mata Allah. Apa bekal yang paling baik di mata Allah? Bekal itu bukan harta benda berupa emas, permata maupun dolar amerika, bukan pula tahta, jabatan, pangkat dan kedudukan di mata manusia, bukan pula wanita yang selalu kita puja, bukan pula ketampanan dan kecantikan yang biasa kita banggakan. Bekal terbaik di mata Allah adalah taqwa. Allah berfirman, Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS Al-Baqoroh[2]:197).
Taqwa adalah manifestasi dari amal perbuatan kita dalam kehidupan sehari-hari. Suatu ketika Umar bin Khattab ra., bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang taqwa. ”Wahai Ubay, Tahukan kamu apa itu taqwa?” Kemudian Ubay menjawab dengan sebuah pertanyaan, ”Pernahkan kamu berjalan di suatu jalan yang penuh dengan duri?” Lalu apa yang akan kamu lakukan?” Jawab Umar, ”Maka saya akan berhati-hati, Saya teliti dengan seksama dan saya lihat tempat berpijak kedua telapak kakiku. Saya majukan satu kaki dan mundurkan yang lainnya khawatir terkena duri, ”Itulah taqwa”, jawab Ubay. Di lain kesempatan, Ali bin Abi Tholib juga pernah ditanya tentang takwa, lalu beliau menjawab: ”Takut kepada Allah, beramal dengan wahyu (Al Qur’an dan Sunnah) dan ridho dengan sedikit serta bersiap-siap untuk menhadapi hari kiamat”
Itulah gambaran taqwa yang disampaikan oleh sosok manusia pilihan generasi awal Islam. Suatu gambaran yang penuh dengan makna. Memang itulah hakikat taqwa. Pribadi yang bertaqwa adalah pribadi yang senantiasa berhati-hati dalam setiap amal perbuatan yang mereka kerjakan. Mereka senantiasa hati-hati dalam ucapan sehingga tidak pernah menyakiti Allah, Rasul dan manusia. Hanya ucapan-ucapan yang baik yang keluar dari mulutnya. Sebagaiamana pesan rasulullah SAW, Qul khoiran aw liyasmut, katakan yang baik atau lebih baik diam. Mereka senantiasa hati-hati dalam makanan, sehingga tidak pernah ada makanan subhat yang masuk dalam perutnya apalagi yang haram. Pendeknya, mereka senantiasa hati-hati dalam mengerjakan setiap perintah dan larangan Allah dan RasulNYA, sehingga Allah senantiasa Ridho terhadap setiap amal yang mereka kerjakan.
Taqwa inilah yang harus senantiasa kita bawa dalam setiap perjalanan hidup kita, termasuk saat perjalanan mudik ke kampung halaman. Jangan sampai saat mudik, taqwa yang merupakan salah satu buah dari puasa Ramadhan kita justru kita tinggal di kontrakan. Dengan taqwa tersebut insya Allah kita akan senantiasa istiqomah menjalani hidup. Tidak mudah futhur di saat-saat dalam kondisi lingkungan yang buruk. Kita akan tetap bisa mewarnai lingkungan dan membawanya ke arah kebaikan (bi’ah ash-sholihah). Akhirnya kita juga bisa terus tetap semangat mengobarkan ruh dakwah di mana pun kita berada.
3. Berpedoman pada Petunjuk
Petunjuk mutlak diperlukan dalam setiap perjalanan, apapun nama dan jenis perjalanan tersebut. Seorang musafir, jika ingin selamat sampai tujuan pasti membutuhkan petunjuk arah berupa kompas, peta ataupun tanda alam. Jika petunjuk tersebut tidak ada, atau ada petunjuk tetapi tidak mau berpedoman padanya niscaya mereka akan tersesat sehingga tidak bisa sampai pada tempat yang mereka tuju. Termasuk perjalanan mudik yang kita lakukan. Meskipun kita sudah tahu tempat asal kita, tetapi kitapun masih butuh petunjuk arah, khususnya bagi pemudik dengan kendaraan pribadi. Ia masih butuh peta jalan, penunjuk arah dan rambu-rambu lalu lintas.
Demikian halnya dengan perjalanan panjang kita menuju kampung akhirat. Perjalanan tersebut justru lebih pelik dan berliku dari pada perjalanan-perjalanan yang kita lakukan selama di dunia. Oleh karena itu, mutlak kita memerlukan petunjuk yang bisa mengantarkan kepada tujuan akhir kita. Petunjuk itu adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Rasulullah SAW., bersabda “Aku telah meninggalkan kepadamu dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR Muslim)
Al-Qur’an dan As-Sunnah, inilah petunjuk yang pasti benar. Petunjuk yang langsung disampaikan oleh Dzat yang Maha Benar, dzat yang Maha Pencipta.
4.Memiliki Teman
Teman dalam perjalanan sangat diperlukan agar bisa saling menjaga dan mengingatkan atau mungkin hanya sebagi teman ngobrol. Pastinya teman di sini adalah teman yang benar-benar halal secara syar’i. Tidak boleh seorang perempuan bepergian tanpa disertai muhrimnya. Tujuannya tidak lain, untuk menghindari bahaya yang tidak diinginkan.
Dalam perjalanan panjang ini, kita pun membutuhkan teman yang baik (sholih). Dengan adanya teman yang sholih tersebut kita bisa saling menjaga dan saling nasihat-menasihati dalam kesabaran dan taqwa. Teman di sini bisa dipahami secara luas meliputi banyak hal, misalnya teman sejati dalam hidup kita (suami/istri), teman dalam sebuah keluarga (anak, saudara), teman dalam lingkungan tetangga, teman karib dalam medan dakwah, teman dalam dunia profesi dan sebaginya. Semua teman tersebut akan menentukan kualitas diri kita. Seseorang bisa dilihat dari keadaan teman-temannya.
IV. PENUTUP
Mudik idul fitri yang setiap tahun kita lakukan hendaknya jangan hanya dijadikan rutinitas tanpa makna bahkan terkesan dipaksakan. Jika memang benar-benar tidak bisa, tidak perlu kita memaksakan diri atau bahkan menghalalkan segala cara hanya demi untuk pulang mudik. Sehingga boleh jadi karena suatu hal kita tidak sampai ke kampung halaman tetapi justru sampai ke kampung akhirat, padahal bekal akhirat kita belum cukup. naudzubillah. Maka dari itu, selama kita mudik dan saat kita bersama keluarga jangan pernah terlena, tetaplah istiqomah dalam ketaatan kepadaNYA.
Rutinitas mudik tersebut hendaknya bisa memperbarui ingatan kita akan kampung akhirat yang pasti akan kita tuju, sehingga kita bisa semakin mempersipkan diri dalam mengarungi perjalanan hidup ini. Tetapkan tujuan, perbanyak bekal, bawa petunjuk dan cari teman yang sholih, insya Allah kita akan selamat sampai tujuan akhir. Wallahu a’lam bish-showab
* Materi insya Allah akan disampaikan dalam acara Ifthor Jama’i LTQ Ibadurrahman, Ahad 21 Ramadhan 1429H